Recent Updates Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Subhan Toba 11:40 pm on Thursday, May 25, 2017 Permalink | Reply  

    Touring Motor (1) 

    Pertama kali saya melakukan touring motor jarak jauh adalah karena adanya kesempatan dan perlengkapan, tapi masih kurang keinginan. Kesempatannya adalah saat itu bertepatan akan adanya acara Kumpul Nasional klub Zippo di Jogja, dan perlengkapannya adalah saya punya motor yang mumpuni untuk itu.

    Acara di Jogja tersebut memberikan saya tujuan, alasan awal untuk melakukan touring lintas provinsi ditambah rasa penasaran ingin menjajal motor Estrella 250cc yang sudah hampir setahun saya pakai. Maka spontan saya coba ajak beberapa kawan untuk ikut touring ini melalui grup medsos komunitas. Namun nihil, tidak ada yang mengiyakan untuk turut serta. Akhirnya lima hari sebelum hari H, saya coba mengajak kawan saya di Depok untuk ikut, dan dia mau turut serta.

    Terlepas dari iya-nya teman saya itu, tetap masih ada yang mengganjal di pikiran saya. Pertama saya hanya pernah naik motor Jakarta-Bandung, selebihnya belum pernah. Tujuan saya saat itu adalah ke Semarang dulu baru ke Jogja. Lewat mana? Saya tidak tahu sama sekali rutenya dan seperti apa kondisi jalannya. Ada perasaan gentar ketika membayangkan jalan jauh, asing, serta musti berbarengan dengan truk dan bis kota.

    Kengerian yang pertama muncul di kepala adalah; celaka yang menyebabkan kematian. Cukup bergidik saya saat itu membayangkannya. Lantas timbul bisikan usil dari dalam hati: “Kamu takut mati?” …. “Bukannya kematian sudah ditentukan?” ….. “Kamu percaya bahwa umur dapat habis kapan pun, dimanapun tidak melihat kamu sedang apa?”….. Saya jawab: Ya tentu saya percaya. Di jawab lagi: “Terus kenapa takut untuk touring? Kalau kamu tidak touring karena ketakutan itu, berarti kamu tidak percaya.”

    Dari situlah bulat tekad saya untuk melakoni perjalanan itu, terlepas jadi atau tidaknya teman saya ikut serta. Bukan berarti saya nekat, hitungan di atas kertas kondisinya sudah mencukupi bagi saya untuk menjajal touring jauh ini. Saya sudah tahunan naik motor dan beberapa kali keluar kota (bandung), dan saya selalu mengevaluasi tindakan saya yang membahayakan di jalan, motor yang sekarang sudah cukup saya kenal karakter dan kemampuannya, sudah ada orang yang pernah melakukannya dengan spec motor yang jauh di bawah motor saya. Selebihnya untuk lebih melogiskan ketakutan di kepala, saya membaca beberapa tips keamanan berkendara dan perlengkapan yang dibutuhkan. Singkatnya saya persiapkan apa yang sekiranya dibutuhkan untuk keamanan dan kenyamanan.

    Dan kondisi lainnya adalah saya dan teman saya sama-sama belum pernah touring jauh, dan sama-sama tidak tahu rute dan medannya. Kami hanya mengandalkan google map dari hp yang di pasang di setang.
    Bersambung…

     
  • Subhan Toba 1:10 pm on Saturday, May 28, 2016 Permalink | Reply  

    Penekanan 

    Orang berkomunikasi awalnya dengan santai, rileks, mengalir. Kalimat per kalimat saling berbalas, sampai kemudian muncul pengulangan kalimat. Muncul pengulangan lagi di sesi komunikasi berikutnya dan berikutnya lagi. Di situ yang terjadi adalah komunikasi mandek. 

    Dan bisa ditebak, penekanan selanjutnya bukan lagi melalui bahasa atau kalimat, tapi perbuatan dan tingkah laku. Itu adalah apa yang umum terjadi selanjutnya ketika komunikasi verbal menemui titik buntu, apapun sebabnya yang jelas para komunikator yang terlibat mempunyai andil atas kebuntuan tersebut. 

    Tahap itu menjadi krusial karena menentukan nasib selanjutnya dari komunikasi mereka apakah terputus disitu atau terjadi pemahaman-pemahaman baru. 

    Masa-masa penekanan non-verbal biasanya akan terasa sangat tidak nyaman dan emosional. Situasi yang membuat penekanan yang dilakukan hampir tidak menciptakan hasil yang diharapkan dari motivasi dasar penekanan itu terjadi. It is a matter of whom broke their ego first

    Dan tak terbayangkan berbagai bentuk perilaku yang dibuat dengan tujuan menciptakan penekanan maksud ini. Bermacam-macam, bahkan sebagian bisa dikatakan sebagai perilaku yang anomali.

    Ketika dapat kembali ke bahasa verbal, bersyukurlah. Karena pola itu yang lebih dapat diterima oleh kebanyakan manusia. Harapan akan sinergi selanjutnya meningkat ketika titik ini dicapai. Dan kuncinya, kejujuran dari semua pihak dan tentu saja; lapang dada. 

    All ears!

     
  • Subhan Toba 9:24 am on Tuesday, May 17, 2016 Permalink | Reply  

    Pencerahan 

    Suatu momen di dalam hidup kita ketika setitik cahaya pemahaman menghapuskan sebuah ruang gelap. Ada yang bilang hikmah atau ilham, apapun itu ketika waktunya pencerahan itu datang dia tak terbantahkan. 

    Bagi saya pencerahan adalah sebuah cahaya pengetahuan yang terbangun dari beragam informasi empirik dan logika yang diterima seseorang. Bisa disebabkan oleh interaksi, informasi, situasi, dan pengalaman berkesan lainnya. Sumbernya tentu dari Yang Maha Sejati. 

    Setiap orang pasti pernah berada dalam posisi ‘ingin mencerahkan’ orang lain, dalam bahasa sederhananya ingin merubah orang lain menjadi lebih baik. Namun seringkali itu gagal. Dan kegagalan itu umumnya disalahkan kepada pihak yang ingin dicerahkan. Padahal tidak begitu kerjanya sebuah pencerahan. 

    Perlu disadari bahwa eksistensi dan kontribusi kita terhadap pencerahan seseorang hanyalah satu komponen diantara jutaan komponen lainnya. Pencerahan itu muncul dari dalam diri kita masing-masing, yang didorong semesta di sekitar kita. Dorongan tersebut baru bernilai ketika ia mendapatkan tempat di relung batin kita, ketika kita memang menyediakan ruang untuknya bersemayam dan membantu kita menyempurnakan diri. Dan ketika semua prosesnya selesai, maka munculah pencerahan itu. Membawa diri kita ke tingkat berikutnya, so we can change and say good bye to old life

    Jadi ketika kita menyampaikan kebenaran dan itu tertolak, sesungguhnya peran kita selesai sampai disitu. Karena seperti saya sebut tadi, kita hanyalah satu komponen yang ikut berpartisipasi. Selebihnya itu proses dia untuk bisa atau tidak bisa menyerap hal tersebut. Ketika penyampaian kebenaran itu disertakan ambisi dan pemaksaan, jangan kaget ketika hasilnya memusingkan. Karena lagi-lagi itu bukan kewajiban kita, kita hanya sebatas mengerjakan dan menyampaikan apa yang memang ditugaskan Yang Maha Agung. 

    Kewajiban kita sediakan ruang itu, selalu kobarkan api pencarian. Karena waktu takkan terasa berlalu. 

     
  • Subhan Toba 12:20 pm on Sunday, May 15, 2016 Permalink | Reply  

    Keputusan 

    Keputusan, akar katanya adalah putus sebuah kondisi yang menyatakan tidak terhubungnya sesuatu yang seharusnya terhubung. Keputusan (ke-putus-an) adalah tindakan yang mengupayakan kondisi putus itu terjadi. 

    Hidup dipenuhi keputusan-keputusan, baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Ketika anda ingin menyeberang jalan, secara sadar Anda akan memutuskan sambil jalan atau berlari, dan secara tidak sadar kecepatan naik turunnya kaki Anda akan menyesuaikan dengan keputusan awal tadi. Mungkin tepat dikatakan sebagai reflek. 

    Keputusan apapun yang kita buat itu adalah upaya keluar dari satu kondisi ke kondisi berikutnya. Keputusan memisahkan titik garis siklus kondisi yang stagnan, menuju perubahan. 

    Sebesar apapun efek sebuah keputusan, pada dasarnya keputusan adalah hal yang kecil dan terjadi dalam tenggat waktu yang singkat. Dia adalah kristalisasi dari segala pertimbangan dibelakangnya. Keajaiban lainnya dari elemen alam semesta.

     
  • Subhan Toba 11:54 am on Sunday, May 15, 2016 Permalink | Reply  

    Nyaman dan Tidak Nyaman 

    Kenyamanan secara umum selalu dikaitkan dengan kesenangan. Suatu kondisi yang baik, bagus, menyenangkan.   Suatu kondisi dan situasi yang membuat kita tenang tidak ada yg salah. Ada juga yg menghubungkan dengan aman atau keamanan (kondisi aman). 

    Orang senang hidup dalam ‘wilayah nyaman’.  Bahkan istilah “Anda harus keluar dari wilayah nyaman” digunakan untuk menggambarkan perjuangan (yang cenderung berarti tidak enak) yang harus diberikan seorang penempuh enterpreneurship

    Tapi apakah benar kondisi nyaman itu mutlak terafiliasi dengan segala pembiasaan seseorang terhadap yang enak-enak?

    Seorang mahasiswa yang suka terlambat mengerjakan tugas kuliah memiliki konsekuensi dan pengalaman mulai dari teguran dosen hingga ancaman tidak lulus. Ketika dia tahu konsekuensinya, penyebabnya, dan solusinya namun tidak ada perubahan yang dia lakukan. Maka bisa dikatakan dia nyaman dengan kondisi yang salah itu.

    Jadi menurut saya sangat mungkin orang dengan salah kaprahnya terus menyebut, mengeluhkan kondisi yang tidak enak, -tanpa berbuat banyak untuk merubahnya, atau malah konstan membiarkan kondisi tersebut berlangsung- dan berkata; “saya berada dalam kondisi yang tidak mengenakkan”. 

    Karena sesungguhnya dia sudah nyaman dengan kondisi yang melenceng tersebut itu. Karena kemungkinan dia sangat tahu bahwa untuk merubah keadaan itu memerlukan upaya yang juga tidak enak dan dengan kemungkinan yang terbayang juga tidak enak. Dan memikirkan upaya itu saja sudah membuatnya tidak nyaman, akhirnya dia memutuskan untuk diam dalam status quo. 

    Dalam istilah orang dulu itu disebut, “penyakit yang dipelihara”.
    Saya tidak mengatakan itu salah atau benar, disini hanya memaparkan dengan tujuan kita menjadi sadar ketika kondisi itu terjadi pada kita. Bahkan saya yakin setiap orang punya ‘penyakit yang diperlihara’, yang sudah lewat dan sedang berlangsung. Ada yang tidak akan pernah hilang, karena itu menyangkut dengan kekurangan dan kodratny sebagai manusia. 

    Saya rasa ini adalah penyakit bersama spesies yang bernama manusia. Yang terpenting adalah kesadaran apakah kita dalam ‘posisi nyaman’ yang slaah kaptah atau tidak. Karena kita akan menjadi lebih sadar manakala ‘penyakit yang dipelihara’ itu memberikan efek terhadap sisi-sisi kehidupan kita. 

    Tindak lanjutnya setelah kita sadar? Saya rasa itu ada di keputusan yang kita buat. 

     
  • Subhan Toba 4:35 pm on Saturday, May 14, 2016 Permalink | Reply  

    Life is a Joke 

    Ada yang bilang kesejatian itu sederhana, bahwa kebijaksanaan tertinggi itu begitu simplenya hingga ia dapat dituliskan pada sebuah batu kecil. Lantas saya bertanya untuk apa dunia yang kompleks ini. 

    Literatur keagamaan kitab al-quran menyebutkan bahwa hidup ini tidak lain hanyalah senda gurau belaka. Maka kesimpulan yang menjadi jelas bagi saya adalah semua yang terlihat adalah gangguan, distraction, dari apa yang sesungguhnya.

    Dari situ setiap orang dapat mengambil sikap yang berbeda-beda. Bisa bunuh diri, mencari ajaran-ajaran yang tidak umum (karena yang umum dianggap distraction semata), ada yang menikmati hidup hingga tetes terakhir tanpa batasan dan lain sebagainya. Semua sikap itu bergantung pada bangunan paradigma dan informasi yang diterimanya selama seseorang itu hidup. Yang membantuk sebuah ‘jembatan fakta’, kebenaran personal yang menjustifikasi apapun tindakan yang dia ambil berdasarkan kesimpulan awal tadi.

    Itu juga yang saya rasa menimbulkan istilah ‘tidak ada kebenaran yang mutlak’. Bagaimana sesuatu yang sudah benar, belum tentu benar bagi semua orang. Tak terhitung orang yang menjabarkan ini dengan berbagai macam cara, salah satunya dalam kasus gambar kubus yang dilihat dari berbagai sisi. 

    Sebuah puncak gunung terkadang sederhana, hanya sebuah lahan yang tidak begitu luas yang berada di pucuk gunung. Tapi jalan menuju puncak bukan Main rumitnya, betapa menuntutnya perjalanan itu kepada sang pendaki. 

    Hidup itu sementara, sebuah selisih waktu semenjak kita lahir hingga mati. Seperti kembalian recehan yang terlihat banyak, dan akhirnya kita sadar hanya tersisa sebuah koin saja. Dan kelihatannya hidup itu adalah sekumpulan peristiwa temporer yang memerangkap kita dalam hal temporer tersebut. 

    Tak jarang yang rumit terlihat mentok, yang menyedihkan terasa melumpuhkan, yang tak pasti terlihat mutlak. Karena ketidaktahuan kita akan peristiwa temporer sedetik ke depan dari detik yang sekarang ini. Dan manusia nampaknya memiliki kecenderungan untuk selalu menginginkan yang tak mungkin, yang tidak dimilikinya sekarang. Dalam kasus ini; kepastian. Kepastian bahwa dia akan sembuh, akan tidak tersakiti, akan keberhasilan, akan kepercayaan. Kontradiktif dengan ketidakmampuan kita akan peristiwa sedetik ke depan. 

    Maka dari itu sepanjang hidupnya manusia membangun perangkat-perangkat yang membuat semuanya lebih mendekati kepastian. Pertanyaannya, apakah betul kita selalu membutuhkan kepastian sedemikian rupa? Apakah ‘kepastian’ yang kita kejar bukanlah sebuah objek temporer yang bertugas menjebak kita dalam kondisi temporer lainnya? Apakah sebuah kepastian kecil sebegitu terfokusnya untuk kita urusi sehingga kita ternyata jadi kurang siap terhadap serbuan momen temporer lain yang datang berbarengan?

    Ketika seseorang hidup, dan menggunakan pedoman kehidupan hasil comot sana sini sepotong-sepotong tanpa melihat teks dan konteks utuhnya. Maka semesta keancuan akan segera mewarnai pikirannya. Contoh apabila kita hanya melihat tekstual Quran dalam satu sisi itu saja, hal yang paling gampang dilakukan adalah bunuh diri. Sebab buat apalagi hidup di dunia yang semua cuma omong kosong. Namun bila kita melihat pada kontekstual Quran menjadi relevan, dalam skup agama Islam,  kita segera tahu ada dalil lain yang menerangkan pernyataan tersebut. Bahkan menjabarkan how to live through it and safe to the next side. Tentang bagaimana dia selamat dari kekonyolan senda gurau. 

    It is bullshit, it is a joke, but it is also a place for some of us to make the temporaries matters. 

    Fuck i dont know, i dont understand myself either. 

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel