Recent Updates Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Subhan Toba 10:29 pm on Tuesday, August 22, 2017 Permalink | Reply  

    Memulai dengan Skeptis 

    Waktu membenturkan seseorang dengan banyak hal, karenanyalah saya yakin tak ada orang yang betul-betul dapat kembali ke keadaan dirinya sekian waktu yang lalu sepenuhnya. Jasmani dan rohaninya telah berevolusi atau tepatnya terbentuk oleh benturan dan perjalanannya selama ini.

    Anak balita akan memakan apapun yang dia pegang tanpa berpikir dua kali, tetapi anak SD bisa memilih apa yang bisa dimakan dan tidak, sesuatu yang belum dia kenal atau dia curigai tidak enak rasanya kemungkinan besar tidak akan dia makan. Waktu telah membentuk sikapnya atas makanan.

    Semakin besar, akan semakin banyak hal yang dipilah. Sekolah, teman, pakaian, pacar, bidang studi, profesi, pasangan hidup, kelompok sosial, rekan kerja, nama anak, pola pengasuhan anak, rumah tinggal, keyakinan, dan seterusnya dan seterusnya.

    Selalu ada fase permulaan untuk semua itu, semakin dijalani, akan semakin presisi dan tepat pemilahan yang dilakukan dengan timing stop and go yang lebih halus.

    Kesempatan tidak selamanya pintu tol, kebuntuan tidak selamanya macet.

     
  • Subhan Toba 3:10 am on Saturday, August 19, 2017 Permalink | Reply  

    Tingwe Linting Dewek 

    Kurang lebih sembilan bulan yang lalu saya beralih sepenuhnya ke rokok tingwe. Keluar dari kotak penjatahan berbasiskan hitungan batang. Masuk ke dunia rokok yang hampir sepenuhnya custom, bisa disesuaikan dengan cita rasa saya sendiri. 

    Aktifitas tingwe membongkar rokok hingga ke bagian-bagian terkecil. Semua pilihan bahan yang digunakan mempengaruhi rasa  lintingan tembakau yang dibuat. Pemilihan pembungkus rokok (kertas, daun, kulit kayu), filter, tembakau, bumbu rokok, hingga ke bentuk lintingannya itu sendiri. Semua memainkan peran penting. Bahkan sampai packaging atau wadahnya pun bisa kita pilih sesuai selera. 

    Wadah tembakau dari kulit

    Ada satu efek samping lain dari tingwe yang saya rasakan, yaitu penghematan. Sebelumnya saya menghabiskan rokok sekitar dua bungkus (32 batang) dalam sehari. Tak kurang uang 40,000 keluar per harinya hanya untuk rokok. 

    Untuk tingwe, dengan rata-rata 1gram /lintingan, maka kurang lebih 50 batang bisa dihisap dari satu bungkus tembakau linting 50gram. Bila ingin lebih hemat lagi bisa lebih dari itu, tinggal saya kecilkan bentuk lintingannya. Mau lama menikmati lintingan, dipanjangkan saja lintingannya. 

    Saat ini saya menghabiskan sekitar 50gram tembakau dalam waktu 3 hari. Itu berarti Rp 25,000 (harga tembakaunya) vs Rp 120,000 (harga rokok). Sangat jauh selisihnya, belum lagi kalau diakumulasi dalam sebulan.

    Karena prosesnya manual, melinting saya rasa cukup dapat mengerem saya dari merokok secara kereta api, beruntun. Walau kadang saya membuat stok di malam hari untuk keesokan hari (pakai alat atau linting tangan).

    Namun proses yang manual tersebut juga ada kekurangannya. Yaitu ketika kita sedang melakukan aktifitas yang membuat tangan kotor, seperti ngoprek motor misalnya, tangan yang belepotan oli tentu tidak bisa digunakan untuk melinting. Pada saat seperti itu terpaksa saya membeli rokok pabrikan.

     
  • Subhan Toba 7:00 am on Thursday, August 10, 2017 Permalink | Reply  

    Bisikan (1) 

    Setelah melalui Ramadhan tahun ini saya merasa setahap lebih kenal akan diri saya sendiri. Diri saya sebagai manusia yang katanya tempat salah dan dosa. 

    Berpegang pada keyakinan dalil yang mengatakan setan dibelenggu pada bulan Ramadhan. Saya mengajukan kembali pertanyaan; mengapa pada bulan tersebut pelaku puasa masih mungkin berbuat dosa?

    Pertanyaan itu gampang-gampang susah untuk dijawab. Kali ini saya pun memberikan usaha lebih serius untukmencari jawabannya. Saya harus mulai dari variabel yang jelas. 

    Untuk itu saya yakini betul- betul terlebih dulu dalilnya. Lantas ketika setan absen dan manusia masih berbuat dosa, maka hal itu meninggalkan tersangkanya pada diri manusia itu sendiri. Tepatnya pada penyalahgunaan (selalu soal penyalahgunaan) komponen-komponen dirinya. Komponen jasmani (pancaidnera) dan rohani (contoh; nafsu).

    Dari situ saya berniat melakukan komparasi diri saya selama Ramadhan dan di luar Ramadhan. Sekarang saya rasa sudah cukup untuk mulai menuliskan hasilnya. 

    Selama Ramadhan saya memperhatikan diri saya dalam beberapa situasi tertentu, ketika saya marah, birahi, lapar dan haus. Kondisi dasar lapar dan haus menjadi framework yang tepat untuk menyaksikan kiprah hawa nafsu dan bagaimana saya memperlakukan tuntutannya. 

    Semua terasa sangat raw, mentah, sangat mendasar. Terasa to the point tapi mudah untuk dihindari (ketika kita sadari kehadirannya). Dan ketika kebaikan yang ingin dilakukan, mudah saja untuk dilaksanakan. 

    Setelah usai Ramadhan, suasana berangsur berubah. Dorongan-dorongan negatif terasa samar, tidak sebesar pada bulan Ramadhan. Perbedaannya, ketika dorongan dosa itu muncul lebih sulit dihindari. Selalu ada second opinion dan alibi-alibi dikepala yang membuat saya menggampangkan dosa. Bahkan saya temukan second opinion ini juga masuk dalam pertimbangan perbuatan baik. 

    Seperti ketika akan memberi kepada seseorang timbul ungkapan: “tapi dia kan begini-begitu” Atau ketika akan menunaikan shalat, hadir dorongan untuk melihat handphone sebentar, sebentaaar saja, paling ngga ada yang penting juga daritadi handphone anteng ga ada yang hubungin. Pilihannya adalah : wudhu kemudian shalat, selesai, atau duduk buka handphone, entah kapan selesai.

    Pilihan dalam pikiran itu sangat sangat jelas terlihat. Pada bulan Ramadhan kemarin saya akan dengan cepat memilih wudhu dan shalat, tapi sekarang sangat berbeda pilihan yang saya ambil. Dan disinilah saya menyadari perbedaannya, ada second opinion yang timbul dan terus tumbuh dari satu alasan ke alasan lainnya di kepala. Yang akhirnya secara halus mendekatkan saya kepada perbuatan salah. 

    Antara dorongan mentah saya sendiri (naluriah manusiawi), dan dorongan yang ditemani pembisik, sangat jauh perbedaannya. Yang pertama seperti menundukkan banteng liar secara head-to-head, yang satu lagi seperti menundukkan ular yang dipegang buntut tapi kepalanya mematuk.

    Dan surah An-Naas menjelaskan lebih jauh akan pembisik dan bisikannya. Surah ini tentang permohonan perlindungan kepada Tuhannya manusia dari kejahatan was-was yang dibisikkan setan dalam segala bentuknya. 

    Satu bisikan yang dituruti, menuntun pda bisikan lainnya, dan seterusnya, dan seterusnya.

     
  • Subhan Toba 6:05 am on Wednesday, August 9, 2017 Permalink | Reply  

    Nama 

    “Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya…” 2:31

    Sekarang saya sadar, bahwa wajar saja yang pertama kali diajarkan kepada Adam adalah nama-nama benda. Karena tanpa mengetahui nama-nama akan segala hal mustahil budaya dan pengetahuan dapat berkembang. 

    Soal nama ini tersoroti kembali oleh saya ketika sedang mencari barang secara online. Tanpa tahu nama pasti dari barang tersebut, memaksa saya untuk berakrobat dengan beragam kata kunci. Mulai dari mengetik fungsi barang, lokasi penggunaan barang. Setelah bertemu fotonya, dan saya tahu nama barangnya, beuh sangat mudah sekali mendapatkannya. 

    Pun ketika saya melakukan DIY (do it yourself) perangkat elektronika, suangat pusing ketika saya hanya tahu wujud bendanya tanpa tahu namanya (sampai sekarang masih ada beberapa yang belum ketemu). Selain googling, hal yang plong membantu adalah bertanya ke teman yang lebih ahli elektronika; untuk tahu namanya

    Shakespeare pernah menulis “apalah artinya sebuah nama.” Well, it means everything

     
  • Subhan Toba 7:50 am on Friday, June 30, 2017 Permalink | Reply  

    Membaca Sejarah 

    Saya baru saja selesai menonton film Wilson sebuah film dark comedy mengenai jalan hidup seseorang. Kegelisahan terbesar (dan yang terselesaikan) yang dialami sang tokoh adalah ancaman terhapusnya eksistensi dirinya di dunia. Hal itu terselesaikan dengan tersambung lagi hubungannya dengan anak kandung dan cucunya.

    Melihat tema tersebut saya teringat akan tokoh-tokoh dunia yang tercatat namanya dalam sejarah. Hal itu sangat berseberangan dengan posisi tokoh Wilson baik posisi sosial maupun pencapaian dalam hidupnya.

    Selama Ramadhan kemarin saya coba membaca kembali sejarah peradaban Islam. Buku yang saya pilih adalah Sejarah Umat Islam karangan Buya HAMKA. Hal ini tergelitik dari kondisi politik saat ini yang carut marut, yang menggunakan hampir segala cara untuk menang (atau memang politik selalu seperti itu di setiap zaman).

    Dari menggali kembali sejarah umat islam, saya berharap dapat lebih mengerti situasi saat ini. Baik kondisi negara dan masyarakat pada umumnya, dan posisi saya sendiri dalam sejarah yang sedang bergerak.

    Nikmatnya dari membaca sejarah adalah timbul perasaan tenang dan diri yang tidak begitu kaget melihat fenomena-fenomena saat ini. Karena sejarah bicara dalam rentang waktu yang relatif panjang, membuat hidup kita tampak sebagai butiran debu belaka. Membaca dan mempelajari sejarah menghapus hambatan-hambatan emosional temporer yang kita rasakan dalam hidup sehari-hari sebagai manusia.

    Dan dalam Qur’an, saya bertemu penjelasan mengenai sejarah beberapa kaum yang memang dikehendaki untuk tidak pernah ditemukan oleh manusia sesudahnya. Mereka dan segala pencapaian peradabannya dihapus begitu saja dari muka bumi.

     

    Dua hal yang saya garis bawahi dari pelajaran sejarah, manusia yang tercatat dalam sejarah hanya dua; mereka yang betul-betul brengsek dan yang betul-betul mulia. Keduanya diposisikan sebagai sumber manfaat manusia selanjutnya. Entah sebagai contoh buruk atau sebagai contoh baik. Peradaban manusia adalah hasil pewarisan manfaat yang turun-temurun dan tak jarang pula dari kebencian yang dirawat antar generasi.

     
  • Subhan Toba 4:02 pm on Thursday, June 29, 2017 Permalink | Reply  

    Tauhiid fiil Motorcycle 

    Dulu ketika saya mulai gandrung untuk mencuci sendiri motor kesayangan, saya menemukan beberapa kerak kotoran pada motor yang cukup sulit untuk dibersihkan. Beberapa kotoran lebih melekat daripada yang lain. Fenomena tersebut segera menjadi analogi pribadi saya mengenai kondisi hati manusia dan dosa-dosa yang menutupinya. 

    Kali ini ketika saya mempelajari kinerja mesin motor, perawatannya, dan optimalisasinya, saya melihat ‘teknis’ hidup manusia dan ‘teknis’ hubungan makhluk dengan khaliknya. 

    Secara singkat, saya menerjemahkan kinerja motor sebagai penerjemahan mesin dan mekanikal lainnya atas perintah sang pengendara mengenai gerak dan manuver. Sebuah perintah yang disampaikan melalui rangkaian proses komunikasi antar part. Dan semua bagian berperan menentukan bentuk respon yg dihasilkan. Bottleneck atau anomali pada satu rangkaian proses akan menghambat kinerja part lainnya.

    Motor dan seluruh part nya terbayang oleh saya sebagai upaya manusia dalam mengharapkan respon dari Sang Pencipta. Jasmani, rohani, menjadi satu rangkaian ‘kendaraan’ yang tak terpisahkan. Dan Tuhan menurunkan agama sebagai manual book bagi kita para pengendara kehidupan. 

    Hal ini tergambar tepat ketika saya bertanya-tanya tentang hikmah kehidupan saya belakangan ini. Perjalanan lahiriah dan batiniah pribadi saya. Ketika semua upaya telah dibuat dan hasilnya masih belum optimal, apalagi yang kurang? Apalagi yang mesti diperbaiki?

    Dan ketika saya membuka busi motor, menggantinya dengan yang baru dan lebih baik, munculah ilham itu; mungkin ada satu part dari diri saya yang belum ter-maintain belum dioptimalkan. Yang membuat saya segera mengarahkan teropong pertanyaan jauh ke dalam diri sendiri. 

    Membongkar segala ‘ubudiyah dan segala mu’amalah. Mana yang terlewati dan mana yang belum dilaksanakan dengan benar, dan yang paling penting; yang mana dulu yang dikerjakan untuk kondisi saat ini.

    Dimulailah pemetaan ‘part-part’ diri saya sendiri.

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel