Updates from Subhan Toba Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Subhan Toba 2:10 pm on Saturday, June 24, 2017 Permalink | Reply  

    See You Later Ramadhan… 

    Tak terasa bulan Ramadhan tahun ini sebentar lagi akan berakhir. Tak sampai seminggu lagi fajar bulan Syawal akan menyingsing. Ada rasa sedih terbetik dalam hati; sedih dan takut. 

    Sedih bahwasannya segala keistimewaan Ramadhan akan berakhir dan takut tak bisa lagi berjumpa, juga takut kehilangan segala kebiasaan baik yang terbina selama Ramadhan. 

    Semoga Tuhan mengekalkan kebaikan-Nya dan semoga Tuhan mengizinkan hal tersebut atas diri saya.

     
  • Subhan Toba 6:14 am on Wednesday, May 31, 2017 Permalink | Reply  

    Sang Pemberi Hutang 

    Semalam nemu postingan status di facebook, yang mengklaim itu tulisan seorang pengusaha kawakan asal hong kong. 

    Pada masa-masa seperti ini saya ngga bisa percaya sama tulisan-tulisan hasil share copas, ataupun gambar tokoh dengan kata-kata yang dinisbatkan kepada orang/tokoh tertentu. 

    Tapi untuk yang satu ini saya suka dengan isinya. Entah aslinya tulisan siapa, tapi feeling saya orang itu menuliskannya dengan tulus, sepenuh hati, dan berdasarkan pengalaman. Karena saya tahu kondisi yang digambarkan dalam tulisan tersebut. 

    Berikut kutipannya:

    #copasan

    Kata Miliarder Hongkong Li Ka-Shing : “Hal apa yang tersulit? Pinjam uang!”

    Orang yang mau meminjamimu uang, adalah pahlawanmu

    Apabila orang tersebut memberimu tanpa syarat, maka ia adalah pahlawan tertinggi di antara pahlawan-pahlawanmu yg lain.

    Sampai saat ini, pahlawan seperti ini tidak banyak.

    Jika kamu sampai menemukan mereka, hargailah seumur hidupmu!

    Orang bisa bersedia meminjamkan uang ketika kamu kesulitan, bukanlah karena ia banyak uang, tp karena ia ingin menarikmu saat jatuh

    Yang dipinjamkan kepadamu juga bukanlah uang, melainkan ketulusan, kepercayaan, dukungan dan kesempatan untuk berinvestasi di masa depan.

    Saya sangat berharap sobat-sobat sekalian jangan sekali-kali menginjak “kepercayaan”, sekali orang lain kehilangan kepercayaan padamu, maka hidupmu pasti hancur!

    Ingat, kepercayaan kepada orang lain adalah harta seumur hidup!

    Selain itu, tolong kamu catat perkataan di bawah ini :

    Orang yang suka inisiatif mentraktir, bukanlah karena ia punya banyak uang, tapi karena ia memandang “pertemanan lebih penting” daripada hartanya.

    Orang yang suka mengalah saat bekerjasama, bukanlah karena ia takut, melainkan tahu apa artinya “berbagi”.

    Orang yang bersedia bekerja lebih keras dari orang lain, bukanlah karena ia bodoh, tapi karena mengerti apa artinya “bertanggung jawab”.

    Orang yang terlebih dahulu meminta maaf saat berdebat, bukanlah karena ia mengaku salah, melainkan tahu artinya “menghargai”.

    Orang bersedia membantumu, bukan karena berhutang, tapi karena menganggapmu sebagai “teman”.

    Sudah berapa banyak orang yang tidak memperhatikan logika ini? Sudah berapa banyak orang yang menganggap pengorbanan orang lain adalah “hal yang semestinya”?

    Bila orang tulus berjalan, ia akan jalan sampai ke dalam hati.

    Bila orang munafik berjalan, cepat atau lambat ia akan ditendang sampai keluar dari pandangan orang lain!

    Bila pertemanan di antara manusia adalah jodoh, maka hal yang diandalkan hanyalah ketulusan dan kepercayaan!

    Kamu mau menjadi orang seperti apa, semuanya adalah pilihanmu

    Percayalah, hubungan antara manusia harus mengandalkan kepercayaan! Terserah kamu mau pinjam uang atau tidak, yang terpenting kamu harus memberikan kepercayaan!

     Dan baru pagi ini juga ketika saya membaca Qur’an, saya bertemu dengan ayat-ayat yang membahas riba, hutang-piutang, dan jual-beli. 

    Salah satu yang berkesan:

    “Dan jika (orang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan. Dan jika kamu menyedekahkan, itu lebih. Baik bagimu, jika kamu mengetahui. ” ~ Al-Baqoroh, ayat 280.

     
  • Subhan Toba 11:40 pm on Thursday, May 25, 2017 Permalink | Reply  

    Touring Motor (1) 

    Pertama kali saya melakukan touring motor jarak jauh adalah karena adanya kesempatan dan perlengkapan, tapi masih kurang keinginan. Kesempatannya adalah saat itu bertepatan akan adanya acara Kumpul Nasional klub Zippo di Jogja, dan perlengkapannya adalah saya punya motor yang mumpuni untuk itu.

    Acara di Jogja tersebut memberikan saya tujuan, alasan awal untuk melakukan touring lintas provinsi ditambah rasa penasaran ingin menjajal motor Estrella 250cc yang sudah hampir setahun saya pakai. Maka spontan saya coba ajak beberapa kawan untuk ikut touring ini melalui grup medsos komunitas. Namun nihil, tidak ada yang mengiyakan untuk turut serta. Akhirnya lima hari sebelum hari H, saya coba mengajak kawan saya di Depok untuk ikut, dan dia mau turut serta.

    Terlepas dari iya-nya teman saya itu, tetap masih ada yang mengganjal di pikiran saya. Pertama saya hanya pernah naik motor Jakarta-Bandung, selebihnya belum pernah. Tujuan saya saat itu adalah ke Semarang dulu baru ke Jogja. Lewat mana? Saya tidak tahu sama sekali rutenya dan seperti apa kondisi jalannya. Ada perasaan gentar ketika membayangkan jalan jauh, asing, serta musti berbarengan dengan truk dan bis kota.

    Kengerian yang pertama muncul di kepala adalah; celaka yang menyebabkan kematian. Cukup bergidik saya saat itu membayangkannya. Lantas timbul bisikan usil dari dalam hati: “Kamu takut mati?” …. “Bukannya kematian sudah ditentukan?” ….. “Kamu percaya bahwa umur dapat habis kapan pun, dimanapun tidak melihat kamu sedang apa?”….. Saya jawab: Ya tentu saya percaya. Di jawab lagi: “Terus kenapa takut untuk touring? Kalau kamu tidak touring karena ketakutan itu, berarti kamu tidak percaya.”

    Dari situlah bulat tekad saya untuk melakoni perjalanan itu, terlepas jadi atau tidaknya teman saya ikut serta. Bukan berarti saya nekat, hitungan di atas kertas kondisinya sudah mencukupi bagi saya untuk menjajal touring jauh ini. Saya sudah tahunan naik motor dan beberapa kali keluar kota (bandung), dan saya selalu mengevaluasi tindakan saya yang membahayakan di jalan, motor yang sekarang sudah cukup saya kenal karakter dan kemampuannya, sudah ada orang yang pernah melakukannya dengan spec motor yang jauh di bawah motor saya. Selebihnya untuk lebih melogiskan ketakutan di kepala, saya membaca beberapa tips keamanan berkendara dan perlengkapan yang dibutuhkan. Singkatnya saya persiapkan apa yang sekiranya dibutuhkan untuk keamanan dan kenyamanan.

    Dan kondisi lainnya adalah saya dan teman saya sama-sama belum pernah touring jauh, dan sama-sama tidak tahu rute dan medannya. Kami hanya mengandalkan google map dari hp yang di pasang di setang.
    Bersambung…

     
  • Subhan Toba 11:13 pm on Saturday, July 2, 2016 Permalink | Reply  

    Datang Lagi 

    Dan hujan mengguyurmerutuki kekosongan

    membasahi relung hati dengan sepi
    sepetik nada blues menggores dindingnya

    memberikan sedikit manis pada pahit

    ruang membuatku ingin pergi

    ayat suci membuatku bersalah

    blues menjadi masuk akal
    Dan hujan mengguyur

    membasahi lahan ketidakpastian baru

    bukan, bukan masa depan menggundahkan

    bukan pula kemalangan menggulanakan

    aku kesepian
    waktuku dan waktunya dan waktu mereka

    tak bertemu padu

    pertemuan menjadi singkat

    perpisahan berasa berat
    hatiku meratap

    merutuk

    sendirian di dalam ruang

    ruang membuatku ingin pergi
    mataku seluruhnya

    tak sanggup memandang Tuhan

    malu sangat
    rasanya tidak ada dimana-mana

    rasanya tidak terasa apa-apa

    rasanya ruangan ini terlalu besar dan kosong

    ruang membuatku ingin pergi
    hatiku menjerit

    dengan derit kaki lemari yang bergeser

    mungkin lelah

    atau entah
    Rasanya rasa ini tak asing lagi

    rupanya, ada waktunya dia kembali

    22:13, 2 Juli 2016

     
  • Subhan Toba 11:12 pm on Saturday, July 2, 2016 Permalink | Reply  

    Datang Lagi 

    Dan hujan mengguyurmerutuki kekosongan

    membasahi relung hati dengan sepi
    sepetik nada blues menggores dindingnya

    memberikan sedikit manis pada pahit

    ruang membuatku ingin pergi

    ayat suci membuatku bersalah

    blues menjadi masuk akal
    Dan hujan mengguyur

    membasahi lahan ketidakpastian baru

    bukan, bukan masa depan menggundahkan

    bukan pula kemalangan menggulanakan

    aku kesepian
    waktuku dan waktunya dan waktu mereka

    tak bertemu padu

    pertemuan menjadi singkat

    perpisahan berasa berat
    hatiku meratap

    merutuk

    sendirian di dalam ruang

    ruang membuatku ingin pergi
    mataku seluruhnya

    tak sanggup memandang Tuhan

    malu sangat
    rasanya tidak ada dimana-mana

    rasanya tidak terasa apa-apa

    rasanya ruangan ini terlalu besar dan kosong

    ruang membuatku ingin pergi
    hatiku menjerit

    dengan derit kaki lemari yang bergeser

    mungkin lelah

    atau entah
    Rasanya rasa ini tak asing lagi

    rupanya, ada waktunya dia kembali

    22:13, 2 Juli 2016

     
  • Subhan Toba 1:10 pm on Saturday, May 28, 2016 Permalink | Reply  

    Penekanan 

    Orang berkomunikasi awalnya dengan santai, rileks, mengalir. Kalimat per kalimat saling berbalas, sampai kemudian muncul pengulangan kalimat. Muncul pengulangan lagi di sesi komunikasi berikutnya dan berikutnya lagi. Di situ yang terjadi adalah komunikasi mandek. 

    Dan bisa ditebak, penekanan selanjutnya bukan lagi melalui bahasa atau kalimat, tapi perbuatan dan tingkah laku. Itu adalah apa yang umum terjadi selanjutnya ketika komunikasi verbal menemui titik buntu, apapun sebabnya yang jelas para komunikator yang terlibat mempunyai andil atas kebuntuan tersebut. 

    Tahap itu menjadi krusial karena menentukan nasib selanjutnya dari komunikasi mereka apakah terputus disitu atau terjadi pemahaman-pemahaman baru. 

    Masa-masa penekanan non-verbal biasanya akan terasa sangat tidak nyaman dan emosional. Situasi yang membuat penekanan yang dilakukan hampir tidak menciptakan hasil yang diharapkan dari motivasi dasar penekanan itu terjadi. It is a matter of whom broke their ego first

    Dan tak terbayangkan berbagai bentuk perilaku yang dibuat dengan tujuan menciptakan penekanan maksud ini. Bermacam-macam, bahkan sebagian bisa dikatakan sebagai perilaku yang anomali.

    Ketika dapat kembali ke bahasa verbal, bersyukurlah. Karena pola itu yang lebih dapat diterima oleh kebanyakan manusia. Harapan akan sinergi selanjutnya meningkat ketika titik ini dicapai. Dan kuncinya, kejujuran dari semua pihak dan tentu saja; lapang dada. 

    All ears!

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel