Updates from August, 2004 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Subhan Toba 11:31 am on Tuesday, August 31, 2004 Permalink | Reply  

    Akar 

    Mengetahui akar, rasanya seperti dihajar balok besar tepat di jidat! Kesegaran, pemahaman baru, pengungkapan akan tabir hakikat dari sapaan dan salam sehari-hari. Mengetahui akar, mendalami senyum dan sorot mata untuk melihat sesuatu dibalik sesuatu dan seseorang. Cabang-cabang yang membelok, warna dan lekuk yang dihasilkan, meyakinkan kita, bahwa kita benar-benar kita, mereka bagian dari kita, dan kita bagian mereka.

    Ratusan doa-doa rahasia berhamburan kepada mereka yang tak terpandang mata. Kesenangan, bahagia, mengetahui bahwa kita adalah bagian dari sesuatu, bahwa kita adalah bagian dari akar tersebut, seperti orang stroke yang sembuh tiba-tiba dan pembuluh darahnya kembali lancar.

    Semangat juga akhirnya terpompa. Kepasrahan dan penerimaan akan keadaan ikut menyusul, bersukarela menjalari hati.

    Satu tabir tersingkap. Melangkah ke tabir selanjutnya. Hakikat percabangan, penjadian cabang, dan unsur-unsur cabang yang bersatu pada diri. Kita memang harus mengenali diri kita sebaik mungkin, karenanya kita harus tahu sejarah.

     
  • Subhan Toba 11:19 am on Tuesday, August 31, 2004 Permalink | Reply  

    Reboot 

    Ya Tuhan! Aku salah! Segera kubenahi, kupotong gunung-gunung liar, semak yang merambat lebat, biar terang, hingga jelas kenyataan dan bayangan.

     
  • Subhan Toba 9:13 am on Tuesday, August 31, 2004 Permalink | Reply  

    31 Agustus 2004 

    Catatan Maba 2

    (Bahasa sehari-hari, kemudian puitis)

    Malem minggu kemaren OSPEK selesai. Sukur gue selamat dari acara Penyiksaan Puncak (sempet ikut pas makan ‘makanan sorga’ dan ‘ramuan cinta’), gila, yang turun rata-rata alumni FSRD-nya. Kenapa gue bisa gak ikutan, karena gue dan sepuluh anak FSRD 2004 lainnya ditarik sama anak Kotak Pinsil buat bikin operet ank 2004 yang bakal ditampilin malemnya. Dan tau gak, gak laen dan gak bukan operet itu adalah: K a b a r e t. U know kan? Player-nya cuman mangap-mangap doang, semuanya dikontrol oleh si dubber, njrit, akhirnya gue maen kabaret juga (gak maksud ngeremehin kabaret, cuman gue pribadi kurang suka aja). Disitu gue berperan jadi satpam bank yang tolol, berkostum ala vokalis The Darkness, lo tau kan, yang ketat sebadan-badan itu. Setelah usai pertunjukan, kita dikasih tepuk tangan dan ditawarin masuk Kotak Pinsil, (dari sebelas orang) sepuluh langsung ngangguk berminat, gue paling terakhir bilang iya (uhh, padahal gue pengen ngejauhin kegiatan-kegiatan dulu, apalagi ini, panggung-panggung juga). Setelahnya, ngambil jadwal kuliah, liat band sebentar, terus nanya-nanya dikit soal ‘etika’ junior di sini, cabut pulang.

    Dan well, udah dua hari ini gue masuk kuliah, banyak banget perbedaan gue temuin disini. Yang paling mencolok, dulu, di teater, dari 35 orang, ceweknya cuma 8 orang, nah sekarang, dari 26 orang cowoknya cuman 8 orang (kebayang kan). Huhuhu, setelah masuk dan milih interior, baru gue tau, bahwa di interior emang cewek itu lebih banyak. Dan (ya Tuhan!) ada Fisika dan saudara-saudaranya! (hitung-hitungan). Munyung-munyung-munyung.

    Itu baru dari akademik-nya, kalo dari pergaulan, senioritas cukup kental disini. Standar sih, Masa Bimbingan selama 6 bulan pertama yang diakhiri dengan kemah di alam. Nah maka dari itu, gue menerapkan (dan mengajak kawan yang lain) sistem grilya; jangan berkeliaran dikampus kalo nggak perlu, ato kalo kemana-mana ya barengan. Ini untuk mengantisipasi senior yang geblek bin iseng bin jahil bin pir’aun. Gue sempet kena sekali waktu hari pertama, lagi mau ke masjid eh dipanggil sama yang waktu OS jadi tatib, gue di suruh manggil 7 anak SR Fotografi, gue iya-in aja, gue bilang ntar abis solat, eh dimasjid gue ketiduran, bangun-bangun langsung masuk kelas (dan terlupakanlah oleh gue perintah senior itu).

    Gue sempet nyoba ikut nongkrong sama mereka, waktu ass dos (alumni) nawarin nongkrong bareng. Tololnya dari 8 laki-laki itu, gue doang yang nunjuk pengen ikut. Ikut-lah gue akhirnya, dan rupanya jauh dari yang ditawarkan sebelumnya (maen catur dan remi), gue di’umpan’kan ke temen-temen alumni-nya yang kayaknya lagi setres abis sidang (anak 95 baru sidang taun ini). Hikshikshiks, dikerjain lagi, tapi rupanya lebih manusiawi nongkrong sama alumni, setelah dikerjain, gue ngobrol, nanya-nanya soal Desain Interior sama mereka. Setelahnya pulanglah gue dengan sentosa.

    Gerilya, kucing-kucingan, Ilmu Ninja (yang didapat dari komik), ilmu ‘fashion yang tidak mencolok mahluk usil’, akting tampang polos dan tolol, senyum manis dan sapaan pagi, siang, sore “Pagi kak…” “Permisi…”, semuanya harus gue keluarin.

    Daaaaannnn, selama 6 bulan ini gue blom boleh ngerokok di kampus. Baru dua hari jalan, masih ada waktu 6 bulan untuk bergerilya!

    Fight!

    =====================
    Hancurkan ‘siapa’ dirimu, apa kamu, dan berjalanlah. Jadilah bayangan. Kita menyelinap, mengendap-endap, hingga tanpa sepengetahuan siapa pun, kita ada di puncak.

     
    • nazla 9:13 am on Tuesday, August 31, 2004 Permalink | Reply

      kau tak bisa jadi bayangan, ba. ngga yakin gw.

  • Subhan Toba 10:33 pm on Saturday, August 28, 2004 Permalink | Reply  

    29 Agustus 2004 

    Renyahnya Luka yang Berdenyut

    (ini bukan puisi…)

    Harus berubah, lumatlah-lumat, runtuhlah-runtuh apa yang telah bercokol dikepala sekian lama. Jalan yang dititi penuh besi panas yang selalu mendesak kita untuk mundur. Tapi tidak, nyalakanlah sumbu keberanian dengan lebih anjing lagi! Kita baru menanam tiang pancang sedalam setengah meter, harus lebih dalam lagi.

    Lihatlah tanganmu, perhatikan, dengarkan ia bicara. Proses, hujan dan debu telah menggilasnya berkali-kali, dan ia hidup, ia tetap menggenggam sampai detik ini. Haruskah kita menghianatinya?

    Jadilah lebur dengan tanah, biarkan membumi, hingga rumput tumbuh subur dan menghijau. Jangan dimanja sakit yang berdenyut-denyut itu, tekan, lalu telan. Anggaplah seperti goresan silet yang yang melukai jari. Lantas tersenyumlah, senyumlah dengan ikhlas, buahkan bunga pada hati orang-orang, bahkan pada hati para keparat sekalipun. Luka itu penanggungan kita sendiri, snack kita, hasil tangan kita. Hahahaa, tak ada yang peduli padanya kecuali kita, mamah saja, seperti kambing memamah rumput, seperti gelandangan mengunyah sampah, seperti kita kunyah jamu terpahit, mentah-mentah, tanpa air, rasakan pahitnya, yakinkan pada dirimu bahwa luka itu manis, lupakan pahitnya, telanlah tanpa pikir panjang. Bila setelahnya tak kau temukan air, sekali lagi, senyum saja.

    Senyum yang ikhlas.
    Pikirkan rasa yang menyenangkan…

     
    • adjeng 10:33 pm on Saturday, August 28, 2004 Permalink | Reply

      membuahkan bunga pada hati orang keparat….. gimana cara??

    • nazla 10:33 pm on Saturday, August 28, 2004 Permalink | Reply

      di hati orang keparat bisa tumbuh bunga yang lebih wangi dari bau melati

    • adjeng 10:33 pm on Saturday, August 28, 2004 Permalink | Reply

      gimana caranya menurutmu? aku gak nanya wanginya

  • Overdrie 1:13 am on Saturday, August 28, 2004 Permalink | Reply  

    Malam Ini 

    kita tidak sedang dalam cerita Layla-Majnun bukan?
    jadi betul,
    aku takkan menangis di makam-mu
    sampai mengering dan kembali menjadi debu.

    bukankah Majnun sangat mencintai Layla?
    bahkan ia bersedia menjadi budak cinta Layla.
    tidak, aku memburu mu malam ini saja.
    dan malam ini, aku jenderal nya, kau kudaku.

    esok pagi kutinggalkan coklat didadamu.
    maaf, aku belum beli bunganya.
    lain kali mungkin.

    =============
    Akbar Tajri

     
    • just visit 1:13 am on Saturday, August 28, 2004 Permalink | Reply

      mmmm…. kamu suka sama Layla ya? kamu tahu tak, cokelat kesukaannya??

    • akbar 1:13 am on Saturday, August 28, 2004 Permalink | Reply

      maaf, ngerti diksi ga? layla disitu bukan berarti pengalaman pribadi

    • totem 1:13 am on Saturday, August 28, 2004 Permalink | Reply

      Berarti layla mana yang udah kamu tinggalin cokelat itu?

    • akbar 1:13 am on Saturday, August 28, 2004 Permalink | Reply

      gini, baca yang “jangan takut, baru baca ini!

    • agam 1:13 am on Saturday, August 28, 2004 Permalink | Reply

      bar sumpah gw kagak ngerti diksi

    • akbar 1:13 am on Saturday, August 28, 2004 Permalink | Reply

      coba tanyakan apa itu diksi ke pemilik situs gam

    • tamu 1:13 am on Saturday, August 28, 2004 Permalink | Reply

      iya, salah paham :) aku tak mudah ngerti puisi neh…. tapi dari pengalaman pribadi, do you have your own Layla? ^_^

    • fhd 1:13 am on Saturday, August 28, 2004 Permalink | Reply

      cerita PRONO

  • Subhan Toba 5:36 pm on Wednesday, August 25, 2004 Permalink | Reply  

    Mouth & Tongue 

    Ya, kita memang tak boleh sembarang bicara. Menyebut hal-hal ‘prinsipil’ dalam nada mengejek atau gurau. Karena mungkin saja Tuhan menganggapnya sebagai doa atau sebuah ‘tantangan’.

    Mulut ibarat tentara baru pegang senjata, gak dijaga, bisa nembak semaunya.

     
    • adjeng 5:36 pm on Wednesday, August 25, 2004 Permalink | Reply

      dududuh…. PR besar hidupku: menjaga lisan!!! hiks….

c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel