Updates from November, 2004 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Rakoes 10:53 pm on Monday, November 29, 2004 Permalink | Reply  

    Annisa 


    -sepenggal kisah Rully Ambarwati dan aku

    raut wajah nan ranum
    isyaratkan rindu pada lelaki,
    pun seorang jejaka yang lupa diri

    raut wajah kusutku
    lampiaskan kata darinya,
    pun tamparmu di pipiku

    waktu bibir nakalku
    mengajak bibirmu rekreasi



    Rakhmat Koes
    bandung, 2004

     
    • Toba 10:53 pm on Monday, November 29, 2004 Permalink | Reply

      “..mengajak bibirmu rekreasi
      ..” Diksi yang bagus sekali bung rahmat… Hahahahahahahahaha, mending lo cium pantat kompor sana, lebih anget dari pantat ayam lho! Oh ya, para penyair STSI kalo bisa undang minta kirim karya nya ke sini Mat, ya kalo mao, macam Dasep, Abriono, Zamzam, dan mungkin yang ank barunya. Eh iya, jangan yang ceweknya aja yang loe ajakin…. :p

    • teater US 10:53 pm on Monday, November 29, 2004 Permalink | Reply

      temen STSI lo nih ba? kagak kangen lo ama STSI? :)

    • Toba 10:53 pm on Monday, November 29, 2004 Permalink | Reply

      Ya, kangen gue sama kampret2 itu :p

  • Rakoes 10:47 pm on Monday, November 29, 2004 Permalink | Reply  

    jejak A 

     
               cintacinta
              sukasukasuka
             lukalukalukaku
            rasarasarasarasa
            masih      masih
            rindu      rindu
            mimpi      mimpi
            gejolakgejolakku
            kelaminkelaminku
            sendirisendiriku
            masih      masih
            fasih      fasih
           bilang      bilang
         cintakau      cintakau
         wanitaku      wanitaku
    
      
    ---
    Rakhmat Koes.
    bandung,2004  
    
           
             
     
  • Rakoes 10:20 pm on Monday, November 29, 2004 Permalink | Reply  

    Senja Memerah di Pangalengan 

    -kepada Rully ambarwati

    WAJAHMU!


    Rakhmat Koes
    pangalengan, 2004

    —————————————-

     
  • Patkay 9:32 am on Sunday, November 28, 2004 Permalink | Reply  

    Berlin, Saturday night 

    Entahlah…
    malam ini belum lagi terasa nyaman ketika kita menundukan kepala dan jalan menuju arah yang berlawanan,
    pulang dan lalu berbaring untuk menghempaskan sial hari ini.
    Aneh.

    Entahlah…
    Setelah minggu-minggu yang lalu,
    selalu bersama untuk mengais sedikit tawa dari wajahmu, wajahku dan wajah mereka,
    berpelukan dalam hangat…

    Entahlah…
    Kau yang selalu megundang datang untuk meneguk kembali ketidaksadaran,
    dan lalu kembali bercerita melanjutkan malam yang kian berdetak,

    Segalanya terasa nyaman,
    hanya karena sabtu malam selalu ada untuk menertawai hari hari yang telah lewat,
    bersama kau dan tiga gelas besar bir hitam kegemaranku.

    Apakah bosan yang membuat gelas gelas warsteiner dan selinting ganja terasa hambar,
    karena setiap berpisah kita akan selalu berkata
    „ bis nächste Woche dann“
    ( sampai minggu depan ).
    Semacam rutinitas seperti layaknya bangun pagi pada hari senin.

    Atu kau punya alasan lain?
    Matamu tidak tampak jujur,
    Tidak sebagaimana biasanya…

    Aku tidak perduli apa yang kau harapkan lagi di sabtu malam ini,
    bagiku, aku hanya ingin tertawa bersama teman temanku.



    Patkay.
    Berlin, 2004-11-28

     
    • Toba 9:32 am on Sunday, November 28, 2004 Permalink | Reply

      Ini puisi sederhana yang padat, salut gue kay. Gue ngerasain ‘hawa goenawan mohamad’ didalemnya (yang lagi gue senengin karyanya sekarang ini). Tapi ngomong-ngomong, kalo nulis kata ulang itu pisahin dengan “-” dong, jangan pake metode penulisan arab! :p

    • Toba 9:32 am on Sunday, November 28, 2004 Permalink | Reply

      eh bentar, barusan gue baca lagi puisinya, udah punya pasangan homo tetap loe sekarang????

    • patkay 9:32 am on Sunday, November 28, 2004 Permalink | Reply

      hehehe, thank’s ba. anjing, homo!!#(

    • TOba lagi 9:32 am on Sunday, November 28, 2004 Permalink | Reply

      Anjing! bentar, gue baca lagi barusan. Kayaknya, ini hasil / pengaruh dari sastrawan-sastrawan Rusia yang loe baca itu, dari pengadeganannya kerasa kayak karya2 seniman sosialis. Ah, kay, sebaiknya kau ke Rusia saja, gantiin Lenin…

    • patkay 9:32 am on Sunday, November 28, 2004 Permalink | Reply

      anjing…kayak karya seniman sosialis!! gak sebagus itulah!! yang pasti puisi ini emang gw bikin buat ngegambarin aktivitas. detail peristiwanya jd sumber gw nulis. but by the way, thank’s lo mau komentarin ni puisi :@)

      N/B: kok lenin seh?!?

    • Toba 9:32 am on Sunday, November 28, 2004 Permalink | Reply

      salah ya???? yah kalo gitu ke kambodia aja, gantiin Polpot pimpin khmer merah baru…

    • patkay 9:32 am on Sunday, November 28, 2004 Permalink | Reply

      hehehehe tai lu!!! pol pot sih mendingan akbar yang gantiin…:@))

    • nanya 9:32 am on Sunday, November 28, 2004 Permalink | Reply

      kok akbar???

  • Subhan Toba 2:18 am on Saturday, November 27, 2004 Permalink | Reply  

    27 November 2004 

    Swing!

    “The sun is up
    I’m so happy I could scream!
    And there’s nowhere else in the world I’d rather be
    Than here with you
    it’s perfect
    it’s all I ever wanted
    I almost can’t believe that it’s for real

    I really don’t think it gets any better than this
    vanilla smile
    and a gorgeous strawberry kiss!
    Birds sing we swing
    clouds drift by and everything is like a dream
    It’s everything I wished

    ……………
    …………..”

    The Cure, Mintcar, Wild Mood Swing

    Aku menjadi awan berwarna oranye yang telah ditiduri unsur putih, sehingga hilang bebannya, jadi lembut dan menentramkan, terbang semakin tinggi dipeluk langit. Bebaskan hati, lepaskan, biar dia merayapi semua hal yang ditakuti manusia; tak jarang di sana (ruang yang menyeramkan itu) Tuhan menyimpan tambang emas yang langka. Bebaskan diri dari penjara bayang-bayang, karena bukan itu yang kita gumuli. Sekuat mungkin kita hampiri ketakutan kita, hadapi, tanyakan langsung apa maunya. Aku menjadi pedang baja yang ringan dan tipis, yang tak dipunyai Daud dan tentara-tentara Romawi, ringan menghindari goresan luka yang tebal dan ganti menikamnya tepat-tepat, menghisap darahnya dan pergi berkelontangan dalam tawa.

    Aha! Kita bertemu lagi, luka di kanan-kiri kita, tapi kelamnya kita sodorkan senyum. Setelah hari kemarin, tentunya mata kita telah belajar, dan saling bertukar pandang yang baru. Ayo terus saja! Dengan langkah Cha-cha, atau tarian genit seorang mata-mata yang mengendap senang. Seperti kucing mengerjap manja lantas mencuri ikan sambil tertawa.

     
  • Subhan Toba 3:52 am on Friday, November 26, 2004 Permalink | Reply
    Tags:   

    Kepada yang baru kukenal dan berkata: “… lebih baik mati…” 

    jangan lari
    ke dalam rimba bernama kematian
    benang kusut itu, sayangku
    akan terurai juga nantinya

    sungai deras yang melelahkan ini
    punya mula, tentu akan selesai di muara
    ikuti alirannya, renangi sebisamu,
    hindari batu-batu

    bertahanlah,
    di sini,
    tak ada yang tanpa akhir



    Toba.
    25 Nopember 2004

     
    • aves 3:52 am on Friday, November 26, 2004 Permalink | Reply

      Huhuhu terharu jadinya,,,,,

    • reeko 3:52 am on Friday, November 26, 2004 Permalink | Reply

      bertanya-tanya akan siapa yang disana… sebuah nama sosok dalam judul

    • GADIS 3:52 am on Friday, November 26, 2004 Permalink | Reply

      seperti kisah Q ..

c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel