Updates from January, 2005 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Subhan Toba 8:31 pm on Friday, January 14, 2005 Permalink | Reply  

    13 Januari 2005 

    Berdamailah manis!

    Hai kau, sudahilah persaingan yang asing ini, yang kita tak kenal asalnya. Kau tahu, bila kita saling topang, kekuatan tentu hal yang kita ciptakan, dimanapun kita berada, pada kamar manapun kita berkutat. Mungkin ini karena luka akibat kecongkakanku atas ketidaktahuanmu dulu, kecongkakan yang mendorongku pada rasa mengetahui segalanya, dan kau hanya bisa menonton dengan takjub dan mulut ternganga. Tapi itu dulu, jelas aku telah meninggalkan dunia itu, dan kau masih disana, berkutat seisi jiwa (kulihat). Memang sakit, melihat seorang ‘penonton’ bangkit menggantikan kita menjadi aktor yang menguasai panggung -yang pernah diduduki-. Tapi apapun sesaknya, bagaimanapun pahit ludah yang ditelan, ini realitasnya, kau bertahan dan aku lari, semua orang tahu mana yang harus diberi applause pada akhirnya. Akupun, betapapun kaku tanganku bertepuk, harus bertepuk tangan juga, hingga akhirnya terbiasa, dan menghormati perjuanganmu dengan takzim yang tulus -juga penuh senyum dan doa-.

    Jadi hentikanlah tabir sutera ini, kita bersahabat, dan kembali bercanda setolol yang kita bisa -tanpa luka tentunya-. Aku rindu tawa manismu.

    Aku tinggalkan panggung, akting, sorot lampu, tangis dan tawa penonton, ucapan selamat sutradara, kritik dan kagum para seniman, latihan penuh keringat. Aku tinggalkan teater. Satu kamar menyilaukan, yang pernah menderukan darah tiap kali udara panggung tercium. Itu mungkin impian muda, yang terhembus tatap Rendra, tekad Suyatna, dan kecerdasan Benny Johannes. Dunia yang selalu kutatap takjub, kugeluti hingga setingkat ibadah baru. Sekarang aku bisa lebih menerima langkah baru ini. Lebih berani menjenguk kebenaran baru, kudongkel isi kepala yang dulu selalu berputar mempertahankan diri, hanya karena takut ketakutanku menjadi benar; bahwa jalan yang kupilih salah, kurang tepat. Aku bergelut disana dan menjadi bodoh. Karena, semakin aku melangkah didalamnya, semakin terasa jawab yang sebenarnya; dan kutepis semua jawaban itu! Dari tengah perjalanan tak urung sebuah tanya selalu menggema; “Teater untuk hidup, atau hidup untuk teater?”. Semakin kukupas, semakin konyol rasanya semua yang kulakukan, semakin aku menghadapi ‘agama teater’ seperti aku menghadapi sepotong roti biasa. Pengagungan luntur, dan tahu ada langkah yang tak tepat dalam aku menghadapinya.

    Kutanya pada orang-orang yang lebih dulu tenggelam, tak ayal Benny (Johanes) menjawab kepada para mahasiswa: “Itulah pertanyaan kalian seumur hidup, saya sendiri belum menemukan jawabannya”.

    Berpisah dari satu dunia itu menyakitkan, bertemu kenyataan baru pun tak kalah sakitnya. Seperti dipukul orang asing disuatu jalan tiba-tiba. Tapi langkah yang terus berjalan akan menyelesaikan semuanya. Pada akhirnya terasa menyegarkan, dan memberi keyakinan bahwa kita hidup dan Tangan Tuhan-lah yang menulis semuanya. Aku keluar dari kamar luas bernama teater, tidak kepada matematika dan ilmu pasti, mungkin pada induknya: Seni. Entahlah, mungkin aku berlari menuju diriku sendiri. Menjadi manusia merdeka. Aku belum menyerah!

    Jadi berdamailah, hentikan adegan Tom & Jerry ini, kuakui kau tahu dan lebih tahu soal dunia itu. Jadi turunkanlah nadamu waktu aku bertanya kabar, bebaskan guyon dari sindiran-sindiran, turunkan gengsi, dan pembelaan diri. Tak masalah dengan siapa kau sekarang (sudah terlalu basi isu ini), jadi kalau kau mau, boleh juga kauceritakan hubungan-hubunganmu sekarang.

    Note: Benny, jawabanku sementara ini: “Teater untuk hidup”. Karena kupikir, dia seharusnya menjadi perangkat kita, bukan sebaliknya.

     
    • AvesenA 8:31 pm on Friday, January 14, 2005 Permalink | Reply

      Benny, jawabanku sementara ini: “Teater untuk hidup”. Karena kupikir, dia seharusnya menjadi perangkat kita, bukan sebaliknya.
      Kata” itu cuman buat ngelak kan? dulu kan lo ga berpikir kaya gitu ;p

    • Toba 8:31 pm on Friday, January 14, 2005 Permalink | Reply

      Iya ves… iya…

    • agam 8:31 pm on Friday, January 14, 2005 Permalink | Reply

      another bull shit???

    • patkay 8:31 pm on Friday, January 14, 2005 Permalink | Reply

      ya, ya… seperti Brecht yang selalu berbicara ttg teater sebagai “alat”.
      hanya pertanyaannya sekarang, akan loe fungsikan sebagai apa teater itu…? dan gw rasa loe gk bisa menyimpan pertanyaan ini untuk seumur hidup loe tanpa ada jawaban… atau?

    • Toba 8:31 pm on Friday, January 14, 2005 Permalink | Reply

      Setiap orang menyimpan pertanyaan, yang bahkan kepada orang terdekatnya pun tak pernah diungkapkan (yang terkadang bila diungkapkan menjadi konyol dan menghasilkan perdebatan tak perlu). Dan setiap orang menyimpan ‘perangkat’ (entah perangkat sosial, politik, seni, agama) yang senantiasa disimpan, digunakan, dalam hidupnya (mungkin) tanpa orang lain tahu (bahkan orang terdekatnya). Setiap pribadi itu sumur, jangan pernah katakan Anda telah tahu kedalamannya, apa-apa yang dikandungnya, secara lengkap. Jangan katakan Anda telah berada didasarnya, walau Anda adalah ember timbaan sumur itu.

    • Toba 8:31 pm on Friday, January 14, 2005 Permalink | Reply

      Buat patkay: entah gue pernah ngomong apa enggak dulu, menurut gue teater itu ilmu2nya SANGAT MUNGKIN dipake dalam kehidupan sehari-hari, jadi kunci buat mulai mpelajari hal-hal baru, dll (panjang kalo ditulisin). Dan buat gue pribadi, ilmu2 teater udeh gue ‘peralat’ sebagai ilmu hidup gue sedari entah kapan (mungkin beberapa orang pernah denger gue nyerocos tentang aplikasi Gimmic panggung dalam keseharian), mungkin hal ini juga ngejelasin kalimat “Teater untuk hidup” menurut gue. Thanks kay, lo selalu menyisakan pertanyaan ketiga. Entahlah, saat ini (sedang) bukan masa-masa banyak bertanya model begitu, tapi lagi NGELAKSANAIN kesimpulan sementara gue. Ya ke depannya gak tau gue. Yang jelas, masih terasa miris buat gue tiap ngebaca berita seni atau sinema….

  • Subhan Toba 8:30 pm on Friday, January 14, 2005 Permalink | Reply  

    12 Januari 2005 

    Kok Ciputat muda lagi ya? Seolah mata kanak-kanakku kembali lagi. Aroma, warna-warna, cuaca, semuanya persis seoerti pemandanganku waktu kecil dulu. Rindu jadi terasa benar pada masa itu, ketika engkong Konin selalu pulang di sore hari tanpa tangan kosong, sekarung atau beberapa karung buahan selalu dibawanya, durian, rambutan, manggis, Beliau panggil cucu-cucunya, dikumpulkan, lalu kami makan bersama, perkelahian antar sepupu ada tentunya. Tapi semua kembali tak jadi masalah waktu engkong tersenyum dan membelai.

    Waktu Sukarta muda dengan penuh semangat membina pekerja-pekerja. Diteras rumah pembuatan sofa, dimuka ada bengkel pembuatan segala; lemari, dipan, alat bubut, las, mesin-mesin pengolah kayu, semuanya riuh-rendah menopang hidup. Juga tak lupa ibu yang kelewat tegas, sapu dan cubitan dengan mudah melayang tiap-tiap anaknya berulah.

    Mas Madjid (yang namanya sering kupanggil Mas Masjid) dari Jepara, Kang Tatang dari Bogor, Bang Kohir (Alm.), tak terasa menyumbangkan sesuatu pada diri ini. Sekarang entah mereka dimana.

    Ciputat menjadi muda, langit berwarna tanah merah. Seperti lapangnya dulu kampung ini, yang sekarang berganti jadi kontrakan dan rumah-rumah baru. Tercium lagi aroma kursi besi yang tak lagi diproduksi. Mahasiswa-mahasiswa terlihat agung, anak SMA terlihat dewasa pedagang pasar dan sepanjang jalan raya terlihat seperti ‘kawan lama’ yang hidup lagi.

    Aku pulang.

    Terasa kembali, bahwa tanah ini memilikiku untuk yang kesekian kali.

     
    • Ummi 8:30 pm on Friday, January 14, 2005 Permalink | Reply

      Ciputat…oh ciputat. Dia memang layak dirindui :)

  • Subhan Toba 8:29 pm on Friday, January 14, 2005 Permalink | Reply  

    10 Januari 2005 

    Kebahagiaan Tarzan

    Berbahagialah Tarzan, ketika menemukan Jane tergeletak pingsan terkena perangkapnya. Berbahagialah dia, atas tangkapan tak terduga itu.

    “Mahluk ini begitu asing, dadanya tak sama denganku…”

    Panjang dia punya tanya, akhirnya Jane sadar dan terpekik. Mereka bertatapan, saling takut, tapi tak lama. Akhirnya berbicaralah mereka berdua, terus ‘berbicara hingga dalam’, sampai bahasa bukan lagi kata-kata.

    Dan monyet pun cuma bisa berpaling.

    Starring : Rocco Siffredi, Rosa Caracciolo

     
    • Aves 8:29 pm on Friday, January 14, 2005 Permalink | Reply

      Wah, setelah sedikit serius gua baca ini cerita, gua baru nyadar kalo ini bokep tarzan-x kan?? buset dah…

  • Subhan Toba 8:27 pm on Friday, January 14, 2005 Permalink | Reply  

    08 Januari 2005 

    Dependency dan Identitas Universal
    (satu dari entah berapa tulisan)

    Sepertinya semua ilmu adalah ilmu hidup -terlepas dari hitam atau putihnya-.

    Kita hidup bergantung pada ‘Nadi Besar’ semesta, kita cuma sesuatu yang menclok dan ikut berjalan-jalan bersamanya. Hukum sederhananya, sesuatu yang kecil bergantung pada yang lebih besar, sesutau yang lemah mengharap pada yang kuat, dan ketiadaan atau ‘bukan apa-apa’ bergantung pada suatu yang bernilai (ada). Kita, manusia, inti fisiknya adalah sperma yang sering dibuang kemana-mana. Sperma yang ‘bukan-apa-apa’ itu bergantung pada manusia yang wadagnya lebih dulu ada, dan manusia bergantung pada Nadi Besar yang sudah berjalan lebih dulu darinya, Nadi Besar yang lebih dulu ada itu bergantung pada Yang Selalu Ada; dalam bahasa kita: Tuhan.

    Ketergantungan-ketergantungan ini menjadi syarat mutlak kehidupan segala mahluk, seperti bentuk ‘hubungan dasar’ antara yang bergantung dan tempat bergantung (‘anak’ dan ‘induk’). Isi dari hubungan dasar ini adalah penurunan sifat-sifat dari ‘induk’ ke ‘anak’, penambahan atau pengurangan karakteristik itu pun selalu dikendalikan oleh ‘induk’ tempat bergantung (‘sesuatu yang lebih besar’ itu). Sehingga tak pelak lagi, terjadilah kemiripan-kemiripan sifat dan proses kerja pada segala unsur ‘anak’ dan ‘induk’ tadi. Pembedanya hanyalah sifat dan fungsi yang unik dan mutlak pada masing-masing pihak. Juga terjadi degradasi kadar (takaran) sifat-sifat itu tiap kali terjadi penurunan sifat tersebut, semenjak pertama ditularkan oleh Tuhan kepada yang dibawah-Nya dan dari yang di bawahnya ke yang di bawahnya lagi dan begitu seterusnya. Pada titik ini, kesetimbangan adalah omong kosong, karena sama rata dalam fungsi, identitas, dan takaran sifat pada segala hal hanya akan berbuntut pada chaos dan kenihilan. Sifat-sifat ini sudah ditanamkan begitu kuat dan mendasarnya pada tiap mahluk, Penanamnya tak lain adalah tempat bergantungnya segala sesuatu tadi (Tuhan).

    Kita yang hidup sebagai manusia, terus berkomunikasi dengan tempat bergantung kita yang paling verbal (paling jelas), yaitu alam. Sifat salah satu induk kita itu tertanam dalam kita, bahkan terlalu dalam sehingga sifat-sifat tersebut telah menjadi kita sepenuhnya, kita susah merasakannya secara sadar dalam keadaan biasa. Dan umat manusia harus berjalan ribuan tahun untuk menerjemahkan-ulang dirinya, -dengan media alam disekitarnya-. Tak habis mereka catat pencapaian proses penterjemahan-ulang itu ke dalam jutaan rumus, buku-buku, filosofi-filosofi dan berbagai cabang fak-fak ilmu. Semuanya itu dibalut dalam bahasa, diimplementasikan pada alat-bantu-alat-bantu mekanis dan terus diuji kebenarannya sepanjang waktu.

    Manusia, terus berkembang dalam ‘tanah induk’nya masing-masing, pencapaiannya berbeda-beda, tapi hasilnya tetap, selalu ada jalur yang sama pada tiap hal/ilmu yang mereka rumuskan, pada cara kerja alat bantu yang diproduksi. Tak peduli itu ilmu hitung, ilmu bahasa, ilmu gaib, ilmu bintang, tak peduli alat bantu itu pacul atau traktor, semuanya punya POLA YANG MIRIP.

    (bersambung…)

     
    • Aves 8:27 pm on Friday, January 14, 2005 Permalink | Reply

      “Tak peduli itu ilmu hitung, ilmu bahasa, ilmu gaib, ilmu bintang, tak peduli alat bantu itu pacul atau traktor, semuanya punya POLA YANG MIRIP.”
      mirip dari adanya? atau mirip untuk menuju yang sama?

  • Subhan Toba 8:26 pm on Friday, January 14, 2005 Permalink | Reply  

    04 Januari 2005 

    Jadi persoalannya adalah ke-siap-an. Seperti peraturan panggung, sekali kita melangkah melewati tirai, memasuki petak terpinggir area panggung sekalipun, kita dituntut siap, tak boleh lagi a-e-o menyiapkan diri, munculnya seorang aktor di panggung, harus selalu bersama dengan sebuah kesiapan. Sebab panggung adalah tempat beraksi, bukan bersiap lagi.

    Tuhan tak pernah mencampuri urusan kita dengan begitu semena-mena. Bila dalam suatu perjalanan kita menemukan tali yang terikat kusut, menyerimpet kaki, tangan kita juga yang membuhulkan kekusutan-kekusutan itu dengan sistem kridit di waktu yang lalu. Bukan karma, benci saya menyebutnya demikian. Cuma tali yang pernah kita ikat sembarang -entah sadar-atau-tidak, entah demi keselamatan sementara kita kala itu-, lantas ikatan asal itu terus terseret-seret sendal kita, dan kita, dengan sadar atau melupakannya, terus membawanya. Terperosok, kita rubuh, muka nyusruk di antara benang ruwet itu. Memaki dengan kesal: “Goblok! Kenapa Tuhan kasih cobaan ini??!!”.

    Seperti gempa, cobaan itu mungkin sesuatu yang bisa diprediksi awal kedatangannya, entah dari aroma, suara, dan segala ciri geografis dan mistis lainnya. Karena tangan kita juga yang memahatnya.

    Tuhan tak pernah menjorokkan hamba dengan semena-mena (walau jelas, Dia Maha Usil), justru Ia begitu baiknya, setelah kita tersungkur Dia berkata arif: “Datanglah kepada-Ku, kembalikan keruwetan (yang kita bikin) kepada-Ku, Penciptanya dan kau.” Kita kembalikan, dengan tulus. Dan setelahnya, kita berkhianat ke dalam gelap.

    “Tiadakah kaulihat, bahwa kapal-kapal berlayar di lautan dengan karunia Allah, agar Ia dapat memperlihatkan kepadamu tanda-tanda-Nya? Sungguh, dalam yang demikian itu ada tanda-tanda bagi setiap orang yang selalu sabar dan banyak bersyukur. Bila ombak melingkupi mereka seperti atap, mereka menyeru Allah, ikhlas ta’at kepadaNya dalam agama. Tapi setelah Ia selamatkan mereka ke daratan, hanya sebahagian diantara mereka yang memilih jalan yang benar. Namun tiada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali mereka yang berkhianat dan tidak tahu berterima kasih.” (Qur’an. 31 : 31, 32)

     
  • Subhan Toba 8:24 pm on Friday, January 14, 2005 Permalink | Reply  

    03 Januari 2005 

    Sepertinya aku ingin menguasai waktu sendirian, buatku. Tapi tak sangup, tangan kelewat kecil untuk menangkap terjangan-terjangannya. Jadilah begini, terkatung-katung tidak dimanapun, tak tergenggam apapun. Hanya amarah berkobar karena semuanya makin kacau.

    Debaran-debaran, kepusingan-kepusingan, mengantar pada titik kebodohan yang buntu. Aku, semuanya tentang aku, tentang tanganku, tentang kakiku, tentang diriku yang tak kunjung terlerai. Selalu tentang aku, selalu padaku mata ini memandang. Terkadang malu, ketika sadar bahwa bulan rupanya memperhatikan.

    Jiwa menyempit, sering inginnya meloncat pada kesimpulan, sering kesimpulannya membawa pada bukan apapun. Lupa pada nikmatnya putaran gerigi kehidupan. Sering aku tak mengerti tindakanku. Membiarkan sesuatu mengintervensi hidupku berdasarkan perhitungan-perhitungan ‘mistik’. Berkeputusan bahwa ini perlu, sambil gamang waktu berjalan; “Mana yang benar sebenarnya?”. Bahkan tak berani sekedar melongok dalam laci, takut bahwa sebuah ketakutan menjadi benar.

    Sekedar slideshow:

    • Ya, sekarang terserah kau, bakar saja buku itu, aku tak peduli. Pergi saja hatimu kemana. Akupun malu membacanya.
    • Hai kau yang datang, kita terkatung-katung. Tak jelas arah kemana, kita berjalan saja, persis seperti yang dulu kita minta. Tapi kenapa sekarang itu tampak menakutkan?

    Begitu kacaunya, aku kehilangan letak Tuhan.

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel