Cuaca Simpang-siur 

Cuaca tidak begitu baik akhir-akhir ini, begitu juga emosi, perasaan, daya tahan tubuh, birahi, hasrat, keinginan, semangat, cinta, tak ada yang pasti -sepertinya semua orang harus marah belakangan ini-. Minggu penuh angin dingin, dan aku kesulitan tersenyum, malah tersedak debu malam dan perut menjadi kembung. Jiwa ini entah semakin goblok atau tumpul, fokus yang mengabur, pikiran yang membayang dua, dan setiap hari aku menemukan satu orang yang mengumpatku.

Ada seorang gadis pada dini hari meminta tolong, ada gadis pada dini hari memancing-mancing seperti merpati, ada gadis di pagi hari mengirimkan kata-kata gusar tepat ke saku kemeja. Aku tinggalkan dalam tawa kecil tentang akidah, tawa yang mencari dan lebih gelisah.

Ketika keadaan semakin tenang, aku menjadi takut. Sepertinya ini tidak wajar. Orang-orang begitu takut ditinggalkan, dilupakan, begitu juga aku, mereka marah dan menuntut.

Menjejak di aspal basah, kucecerkan luka yang tersisa. Aku intip senja melalui spion motor, dan tahu, di belahan bumi sana, fajar sedang merekah.