Updates from December, 2007 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Subhan Toba 1:25 pm on Wednesday, December 26, 2007 Permalink | Reply
    Tags:   

    relationship 

    Seriuslah pada setiap hubungan yang kita mulai, dan karena hubungan itu serius, cermatilah segala sesuatunya dengan baik.

     
    • nazla 1:25 pm on Wednesday, December 26, 2007 Permalink | Reply

      gw rasa ini cuma buat nenangin hati lu sendiri ba

    • toba 1:25 pm on Wednesday, December 26, 2007 Permalink | Reply

      sekedar berbagi saja ko lu :D

      tapi karena lu yang ngomong gue jadi mikir lagi… hehehehe

    • Jay 1:25 pm on Wednesday, December 26, 2007 Permalink | Reply

      Jangan serius-seriuslah,
      temenan aja dulu :p

  • Subhan Toba 11:13 pm on Thursday, December 6, 2007 Permalink | Reply
    Tags:   

    Proses Kreasi 

    Malam Selasa kemarin, gue terjebak oleh hujan di daerah Palmerah tepatnya di rumah sohib gue yang item manis (hail to the king of freak!). Sekitar jam setengah satu malam kita memutuskan pergi ke warung kopi untuk  melanjutkan obrolan kami dan menikmati gerimis malam.

    Ini mungkin pertama kali gue ketemuan secara pribadi sama kawan ajaib gue itu setelah sekian bulan gak ketemu. Banyak topik pembicaraan yang mesti kami rangkai lagi ujung kepalanya hingga minimal bisa nyambung. Kita ngegosip tentang Tuhan, nabi, mimpi, imam agama, banyolan dan bertukar tawa lepas. Memang gak pernah bisa sebentar ketemu orang ini, APALAGI kalau ketemuanya disarangnya dia, dan memang gak pernah bisa mudah bicara sama dia, otaknya ada di awan dan bijinya ada di Mars (hihihihi gak nyambung), banyak putaran-putaran kalimat yang harus kita runutin dengan cermat. Doooh kok jadi ngomongin dia sih, okeh, balik ke alur cerita.

    Pas kita keluar, ternyata jalanan banjir, kami terus berjalan ke warung rokok, sepayung berdua, jalan di tengah jalan raya (dan saya berpikir “duuuuh ngineeep niiih”). Singkat kata kita tiba di warkop, langsung pesen mie rebus, kopi item, Ovaltine. Beres makan obrolan pun dimulai… bla bla bla…. dan sampailah pada topik yang pengen gue tulis disini.

    Gue ngomong tentang bagaimana seharusnya sebuah proses kreasi menurut penangkapan dan pengalaman gue. Obrolan ini dimulai dari pertanyaan dalam benak gue atas orang itu, mengapa orang yang sepandai, sepintar, beliau, tidak juga membuat ‘sesuatu’. Berkarya dalam bidangnya, IT. Gue bilang sama dia; “Dude, lo kan sekarang berstatus sebagai programmer, kuli nya IT, ato whatever lah jabatan lo apa architect nya ato apa, intinya tetep aja lo membuat sesuatu atas permintaan orang lain, buntut-buntutnya kuli. Apa lo gak tertarik untuk buat sesuatu?”. Gue lupa kalimat dia apa (panjang kalo ditulis), garis besarnya adalah dia belum dapet sebuah ide yang ‘wah’, yang memang betul-betul bisa menjual.

    Jadi keinget sama temen gue di Bandung, guru gitar, jago maennya, dan wawasan musiknya pun luas. Gue kadang suka nanya sama dia; kenapa gak bikin lagu **? Tiap gue bikin lagu pasti mirip sama karya orang, terutama yang lagi memberi influence buat gue saat itu. Intinya dia menunggu saat dimana dia telah memiliki karakter sendiri yang kuat, baru kemudian membuat karya.

    Bagi gue, inti dari proses kreasi (dan proses apapun) adalah; dia harus dimulai, dan dilanjutkan secara kontinu. Gue melihat gambaran lengkap sebuah proses kreasi pada proses hidup manusia itu sendiri, semenjak lahir hingga mati. Setiap orang bekerja keras menggapai sesuatu, setiap orang -sadar atau tidak- sebetulnya melakukan proses kreasi, yaitu proses penciptaan sebuah karakter diri yang unik.  Proses penciptaan karakter diri ini yang akan gue analogikan terhadap proses kreasi pada umumnya. Sebelum manusia menjadi dewasa memiliki pribadi yang unik, dia berasal dari seorang bayi. Lihatlah dia ketika bayi, lahir dengan polos, tidak tahu apa-apa, tidak bisa apa-apa. Lantas dia memulai proses menjadi ‘sesuatu’ dengan jalan meniru, meniru orang terdekatnya, ayah dan ibu. Dia meniru bagaimana orang tuanya bicara, berjalan, tertawa, meniru secara buta, mimesis. Semakin lama figur untuk ditirunya semakin banyak dan semakin luas, hingga akhirnya dia memiliki cara jalan, bicara dan tawanya sendiri.

    Dari paragraf di atas, yang coba gue sorot adalah setelah memulai, proses kreasi berjalan dengan mencari figur, dan kemudian meniru figur tersebut. Ini adalah satu proses pembelajaran kita dari posisi tidak tahu, gelap, mencoba mengais informasi dan pengetahuan dari ‘figur’ yang sudah tahu dan berpengalaman.

    Seperti Tadao Ando, seorang arsitek Jepang yang mendunia tanpa mengikuti kuliah formal arsitektur. Masa mudanya diisi dengan latihan sketsa dan kerja pada ahli bangunan. Latihan sketsa yang dia lakukan adalah men-trace (menjiplak dengan cara menggambar diatas selembar kertas yang diletakkan diatas gambar asli) gambar-gambar arsitek kenamaan dunia. Diceritakan oleh beliau sendiri, bagaimana ia terobsesi dengan gambar seorang arsitek dunia, dan kemudian men-trace gambar tersebut berkali-kali sampai gambar yang di trace tersebut rusak. Disini dia meniru gambar orang dengan harapan mengerti garis-garis yang figur-nya goreskan, dan sedikit-sedikit dia mulai menemukan goresannya sendiri. Saat ini orang dapat langsung mengenali goresan sketsa Tadao Ando begitu melihatnya, dan penghargaan uang atas sebuah sektsa kasar Tadao Ando bernilai sangat mahal, seperti benda seni lukis.

    Proses peniruan-peniruan awal disini adalah proses memahami bagaimana seseorang melakukan sesuatu, hingga kita menemui cara kita pribadi. Kita mengenali diri kita melalui cerminan orang lain. Dan keharusan lainnya dalam proses kreasi adalah kontinuitas, tanpa hal ini, semuanya menjadi non-sense. Seperti analogi klasik yang kita semua semua tahu, bahwa sebilah besi dapat menjadi tajam bila terus menerus diasah, batu yang keras dapat berlubang jika terus menerus ditetesi air. Ide yang hebat tidak bisa ditunggu, dia harus dicari dengan laku, perbuatan mencipta yang tak putus. Karakter sebuah karya yang unik tidak bisa dicapai hanya dengan kita menjadi pintar, berwawasan luas, dan mengerti banyak teknik ini-itu, tapi harus dimulai meski dengan karya terburuk sekalipun.

    Bahkan rumah yang megah sekalipun tetap harus dimulai dari bata yang paling pertama.

    Tapi gue tetap menghargai orang-orang itu secara mendalam, mengingat naga yang tertidur di dalam diri mereka, mengingat bahwa sebetulnya mereka pun sedang berusaha dengan jalannya masing-masing. Tulisan ini hanya menyampaikan pandangan gue tentang proses kreasi, hanya sebuah pandangan dibalik tumpukan pandangan orang-orang lain (termasuk teman-teman al-mukarom gue itu), dan bukan berarti pandangan ini yang paling benar, sama sekali tidak.

     
    • nazla 11:13 pm on Thursday, December 6, 2007 Permalink | Reply

      temen2 lu kepinteran sih ba, jadi terlalu tinggi hati untuk dibilang peniru. *semoga gw ga tinggi hati walaupun gw pinter haha*

      duhhh…ribet banget ngisi komen aja ada validasinya!

    • toba 11:13 pm on Thursday, December 6, 2007 Permalink | Reply

      lo kan dah ngersain jdi korban spam juga lu…..

  • Subhan Toba 9:49 pm on Thursday, December 6, 2007 Permalink | Reply
    Tags: ,   

    When we fail our mother 

    Hari ini gue terlibat pembicaraan yang cukup menarik di kampus, sama temen gue Tince dan satu kenalan baru bernama Lusy. Obrolan itu terjadi setelah kami mengikuti seminar tentang Kebudayaan, Desain dan bla bla bla. Banyak yang kita obrolin, salah satu yang pengen gue ceritain adalah obrola kami tentang pilihan.

    Omongan itu disulut oleh pernyataan Tince mengenai kemampuan multi-tasking seseorang. Bagaimana seseorang seharusnya dapat melakukan dua hal berbeda secara proporsional. Contoh kasus adalah kerja dan kuliah (reguler). Gue dan Lusy yang berada dalam posisi tersebut mengatakan nasihat ‘pandai-pandai membagi waktu’ itu adalah omong kosong, menurut gue yang ada adalah penentuan prioritas antara hal-hal tersebut. Dan itu ditentukan oleh kecondongan seseorang terhadap sesuat, mana yang paling dia pilih, kerja atau kuliah.

    Begitulah, pembicaraan terus mengalir sampai pada akhirnya gue bilang, pilihan itu gak ada yang salah, selama kita bertanggung jawab atas pilihan itu. Dan kalo kita terus tunduk pada ‘apa kata orang’, maka gak ada habisnya, kita harus menentukan pilihan kita sendiri. Tiba-tiba aja si Lusy nambahin, dan yang paling gampang adalah kalo kita ngejalanin apa yang direstuin orang tua kita, pasti jalannya dimudahin tuh, ya mungkin ada yang gak percaya sama Tuhan, tapi entah kenapa hal itu kerasa kok.

    Disitu gue langsung nyambungin, mengiyakan dengan tegas sambil senyum. Secara agama, itu jelas dilarang, jangankan nggak patuh, bilang ‘ah’, ‘uh’ aja dilarang. Lantas terbetik sesuatu dikepala gue, sebuah penjelasan yang bukan berasal dari hukum agama. Mungkin begini, gue bilang, ibu itu kan asal muasal kita secara jasmani, jadi ketika kita mengingkari dia, sama saja kita mengingkari asal muasal kita, jati diri kita, yang mana orang yang mengingkari dirinya sendiri pasti akan selalu merasa bingung dan tak pasti akan langkahnya, kehilangan akar.

    Gue tambahin, tapi gue yakin, meskipun kita mengingkari orang tua kita (baca, tidak mematuhi), kita tetep bisa ngeraih mimpi dari jalan yang udah kita pilih, tapi melalui jalan yang penuh kesakitan…

     
  • Subhan Toba 3:29 pm on Sunday, December 2, 2007 Permalink | Reply
    Tags:   

    BukuMerah 

    We’re opening new site. A place to make notes on every phenomena we’ve felt, we’ve seen. It’s our side notes about the world. Please pay us a visit at:

    http://www.bukumerah.wordpress.com

    we are waiting for you….
     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel