Updates from July, 2009 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Subhan Toba 4:53 am on Friday, July 24, 2009 Permalink | Reply  

    Dari Teman Sekelasmu 

    Aku menjadi gugup
    Setiap melihatmu disana, bercanda, tertawa lepas
    Terpaku terhantam keanggunanmu
    Ingin yang tampaknya takkan bertemu harap

    Dalam bayangan kupandangi
    Wajahmu, gerakmu, senyummu
    Indah, tak ada kata yang lain

    Namun harap sekedar harap
    Impian tentangmu terlalu muluk
    Nilai diriku hampir tak ada
    Gelap rasanya ujung jalan menujumu
    Rasa ini tetap menyala
    Untukmu.
    Merajai hati seorang bocah SD.

     
    • aves 6:23 am on Friday, July 24, 2009 Permalink | Reply

      Jiakakkakak… Begini nih anak jaman dulu… kecil2 udah tau suka-sukaan.
      BTW,ini yang kelas berapa 1-4 ?
      Atau kelas 5 ?
      atau yang kelas 6 ?

    • Ahmad Fathoni 1:08 am on Sunday, July 26, 2009 Permalink | Reply

      gw pernah nih ba. tp bkn tmn sekelas, ga 1 SD jg. SDnya sebelahan sama SD gw.. sekarang dia udh punya anak hehehe.

    • Subhan Toba 1:22 pm on Sunday, July 26, 2009 Permalink | Reply

      anak cowok juga thon? hahahahahahahaha

    • Ahmad Fathoni 2:16 pm on Sunday, July 26, 2009 Permalink | Reply

      woooo.. yg gw suka cewe tulen dong hahaha

  • Subhan Toba 4:27 am on Friday, July 24, 2009 Permalink | Reply  

    Semakin Lama Jadi Makian 

    tak mungkin lain
    lagu itu hanya untukmu
    lagu tentang ruang yang kau kosongkan
    dan mimpi yang kau kacaukan

    tak bisa kubayangkan yang lain
    hanya wajah dan namamu
    juga langit pagi yang kita lihat waktu itu

    lagu itu hanya untukmu
    walaupun sejarahnya sudah berlumut seperti candi
    tetap untukmu

    aku menangis seperti pria bodoh
    meratapi kehampaan mendadak
    yang kau pukulkan ke dadaku
    sebangun dari tidur sore
    dalam amplop putih
    berisi sebuah kaset
    dan dua lembar surat

    ngepet benar hariku jadinya
    tak percaya, kubaca berulang-ulang
    sampai ku eja kata per kata
    paragraf demi paragraf
    tiap hari tafsiranku terus berganti
    rasanya seperti mendalami
    kitab suci kaum terkutuk

    sudah jauh sakit itu
    sudah jauh pula senang itu
    tapi tetap lagu itu beralamat padamu

    kesucian yang kau ludahkan ke wajahku
    menjerat dirimu sendiri
    sebab atas dasar itulah
    aku kau campakkan

    puih!
    bodohnya lagi kau tetap kukejar
    dan semakin sadar
    kau seperti monyet
    bergantungan pada segala dahan
    yang dapat menopangmu
    dan cepat pergi pada dahan
    yang lain

    monyet!!

     
  • Subhan Toba 3:47 am on Friday, July 24, 2009 Permalink | Reply  

    Waktu Itu, Di Atas Sini 

    tersentuh jendela alumunium, dingin.
    pada ketinggian ini
    lampu-lampu menggantikan bintang
    membentuk wajahmu

    “mari pindahkan sofanya
    sehingga kita bisa memandangi
    kota dalam pelukan”

    katamu, sukamu.
    aku berdiri canggung
    di depan jendela ini.
    masih terasa guratan di lantai
    bekas sofa itu bergeser
    aku merasakan bahumu yang mengangkatnya
    aku lihat candamu

    ah
    nafasku merutuk
    sadar bahwa sekarang dada yang berdegup
    hanya sendiri
    hanya aku bersama kenangan di ruang ini

    rasanya jiwaku tinggal bayangan
    ketika kau tak bisa melihatku
    ketika kau memandangku kosong
    aku menjadi asap, menjadi kapas tanpa harga

    kau, kau, dan lagi-lagi kau
    kenapa kita mesti bertemu
    kenapa mesti kau sulut cintaku
    dan membiarkannya menyala sendirian

    kuketuk dahiku pada kaca
    masih terasa nafasmu dileherku
    menyebut namaku dan mengatakan rindu
    betapa luruhnya jiwaku, bergolak haruku
    dan kubenamkan segalanya padamu

    satu titik air mata
    membasahi pahaku
    kusebut namamu, kusebut namamu,
    seperti zikir yang mengantarku ke neraka

    panggil aku
    dan saat itu juga aku berlari menujumu
    berikan senyummu
    aku akan menyerah padamu
    rajaku,
    lelakiku,
    permata kegelapanku.
    tinggal kenang ini yang kau sisakan
    tinggal sesak ini yang kau kecupkan

    aku menangis, dan berbisik pelan;
    bajingan…

     
  • Subhan Toba 2:13 am on Friday, July 24, 2009 Permalink | Reply  

    Dambaanku, dambaanku 

    luruh semua beban di dada
    saat kutiupkan huruf-huruf
    yang membentuk namamu
    diujung bibirku

    hilang segala kelu
    dan hadir segala rindu

    Stasiun ini dingin
    lampu-lampu berwarna sephia
    aku membeku

    dambaanku
    jawablah sapaku,
    tolehlah wajahku,
    mataku yang berharap

    dunia bergerak perlahan
    orang-orang bicara dalam dengung
    aku lihat pundakmu
    menjulang seperti gunung tinggi
    begitu jauh

    dambaanku,
    dengarlah suaraku
    tak bisa kusebut namamu
    lebih keras lagi
    tak bisa kuulang keberanian
    memulai sapaan

    dan kau bergerak
    bersama orang-orang
    menuju kereta yang
    berdengking.
    aku lihat bahumu,
    asap kereta,
    dan jarak yang semakin lebar

    dambaanku,
    dijendela gerbong kau duduk
    tersenyum bicara pada orang disamping
    dan kau menoleh keluar, tepat pada mataku.
    Kau tertegun,
    dan roda kereta mulai berputar maju

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel