Updates from August, 2010 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Subhan Toba 4:11 am on Tuesday, August 31, 2010 Permalink | Reply  

    Prasangka dan Fakta: cap muslim sebagai teroris 

    Waktu iseng-iseng buka google reader, saya nemuin satu posting orang yang menarik. Dia membuat satu grafik yang mempertanyakan kebencian dan prasangka barat bahwa muslim adalah teroris. Prasangka bila dibiarkan, apalagi ditambah pembenaran-pembenaran yang dibumbui kisah-kisah palsu, dapat menjadi bola salju kesalah-pahaman yang melekat kuat di benak seseorang. Harusnya, begitu muncul prasangka kita segera menginvestigasi hal tersebut dari berbagai sisi, bahkan kalau perlu menuliskan fakta tersebut ke dalam sebuah grafik (walau cara ini tidak selalu benar).

    Berikut ini adalah grafik yang dibuat pemosting tersebut yang membuat saya tertarik (walau saya berada dalam kelompok yang dipersangkakan).

    Pemosting grafik ini menambahkan kata-kata sebagai berikut:

    Berikut adalah diagram Venn dari populasi Amerika Serikat, populasi dunia Muslim, irisannya, dan al-Qaeda. Titik grafik Al-Qaeda harus diperbesar hingga sepuluh kali lipat agar terlihat.

    Jika Islam benar-benar sebuah agama berlumuran darah dan sebagian besar umat Islam benar-benar mendukung al-Qaeda, kenapa mereka belum membunuh kita semua?

    Walau pernyataan tersebut masih sangat bisa diperdebatkan, grafik ini masih dapat menunjukkan bahwa generalisasi memang berbahaya.

    ***Sumber : http://snarla.wordpress.com/2010/08/29/if-they-hate-us-why-havent-they-killed-us-yet
     
    • Aves 6:45 pm on Wednesday, September 1, 2010 Permalink | Reply

      Artikel yang menarik, cuman di bagian Quote nya rada kurang jelas siapa KITA disana… baru bener2 ngeh pas buka referensinya… Ciayoo :)

  • Subhan Toba 3:02 am on Saturday, August 28, 2010 Permalink | Reply  

    Umberto Eco’s Antilibrary 

    Tulisan berikut ini gue ketik ulang–secara utuh, tanpa izin tertulis– dari buku Black Swan karya Nassem Nicholas Taleb.

    Umberto Eco’s Antilibrary

    Penulis yang bernama Umberto Eco termasuk di antara hanya sedikit cendekiawan yang serba tahu, berwawasan luas, dan tidak menjemukan. Ia memiliki sebuah perpustakaan pribadi yang besar (berisi 30 ribu judul buku) dan membagi para pengunjungnya ke dalam dua kelompok: mereka yang bereaksi dengan “Wow! Signore professore dottore Eco, hebat sekali perpustakaan yang Anda miliki! Berapa banyak di antara buku ini yang telah Anda baca?” dan sebuah kelompok lain—sedikit sekali—yang paham bahwa sebuah perpustakaan pribadi bukan pelengkap untuk menaikkan gengsi pemiliknya, melainkan alat untuk penelitian. Buku-buku yang telah terbaca memiliki nilai jauh lebih rendah daripada buku-buku yang belum terbaca. Perpustakaan harus berisi sebanyak mungkin yang tidak Anda ketahui sama seperti informasi  keuangan, yang tidak harus Anda kuasai seluruhnya tetapi dapat Anda ketahui ketika diperlukan. Anda akan menghimpun pengetahuan dan buku lebih banyak sejalan dnegan pertambahan usia, dan makin banyak buku di rak yang dengan sedih akan memandangi Anda karena belum terbaca. Marilah kita sebut kumpulan buku yang belum terbaca ini antilibrary.


    Kita cenderung memperlakukan pengetahuan kita sebagai hak milik pribadi yang harus dilindungi dan dipertahankan. Pengetahuan seperti sebuah ornamen yang memungkinan kita naik ke posisi lebih terhormat. Maka kecenderungan untuk meremehkan kepekaan perpustakaan Eco dengan berfokus pada yang diketahui merupakan sebuah bias manusiawi yang selanjutnya berpengaruh terhadap kerja mental kita. Orang tidak berjalan ke mana-mana membawa pengumuman negatif mengatakan yang belum mereka pelajari atau belum mereka alami (itu tugas para pesaing mereka), tetapi alangkah baiknya andai mereka melakukannya. Sama seperti kita perlu menegakkan logika perpustakaan di kepalanya, kita akan berusaha mendirikan pengetahuan sendiri di kepalanya. Perhatikan bahwa Black Swan berasal dari kesalahpahaman terhadap kejutan-kejutan yang dapat terjadi, terhadap buku-buku yang belum terbaca, karena kita terlalu sibuk dengan yang kita ketahui meskipun sedikit.



    Mari kita mendatangkan seorang antischolar—seseorang yang berfokus pada buku-buku yang belum terbaca, dan membuat sebuah upaya untuk memperlakukan pengetahuan sebagai sebuah harta karun, atau bahkan suatu hak milik, atau bahkan sesuatu yang meningkatkan harga diri—seorang peneliti yang skeptis.

    Bab-bab dalam bagian ini berusaha menjawab pertanyaan tentang bagaimana kita, manusia, berurusan dengan pengetahuan—dan preferensi kita terhadap cerita-cerita yang menghibur dibanding terhadap sekumpulan data empirik. Bab 1 menghadirkan Black Swan dalam wujud yang aslinya: bagaimana kita cenderung melakukan generalisasi terhadap yang kita lihat. Kemudian saya menyajikan ketiga wajah masalah Black Swan yang sama : a) kesalahan konfirmasi, yakni bagaimana kita cenderung tergesa-gesa tidak menyukai bagian perpustakaan yang belum terjamah (kecenderungan melihat ke bagian yang menegaskan pengetahuan kita, bukan ketidaktahuan kita), dalam Bab 5; b) kesalahan dalam bercerita, yakni bagaimana kita membohongi diri sendiri dengan cerita-cerita dan anekdot-anekdot *Bab 6); c) bagaimana emosi dapat memengaruhi kemampuan kita membuat kesimpulan *Bab 7); dan d) masalah bukti yang bisu, atau trik-trik sejarah dalam menyembunyikan Black Swan dari kita (Bab 8). Bab 9 membahas kekeliruan yang bisa mematikan dalam membangun pengetahuan dari dunia permainan.

    Bottom line dari pengantar ini bagi gue adalah  :

    kita terlalu sibuk dengan yang kita ketahui meskipun sedikit.

     
  • Subhan Toba 5:59 am on Saturday, August 21, 2010 Permalink | Reply  

    Tidak, Bukan Begitu 

    Tidak
    bukannya aku benci kau telpon
    hanya aku menolak berharap

    jangan tawarkan
    yang tak bisa kau beri
    jangan menjadi matahari
    kalau sinarnya hanya mimpi

    biar pertemuan kita
    sebatas kesenangan belaka
    jangan bawa hati
    lupakan soal rasa
    jangan buat aku mengumpatmu

    Tidak
    bukannya aku benci kau hibur
    itu akan membuatku bersandar padamu
    sedangkan tak jelas betul
    dimana kau jangkarkan hatimu

    Tidak
    bukannya aku tak ingin mencintaimu

    sebodoh-bodohnya,
    aku tahu dosa

     
  • Subhan Toba 1:53 am on Friday, August 20, 2010 Permalink | Reply  

    Simplify Your Recurring Activity 

    Setiap orang punya kegiatan yang berulang (recurring activity), bagi para hobiis akuarium kegiatan-kegiatan tersebut adalah pembersihan dwi-mingguan, penambahan air, pemberian vitamin dll. Bagi ibu-ibu yaitu belanja, memasak, menyiapkan keperluan anak dan suami. Bagi pedagang online mengupdate stok-stok baru dagangannya. Dan lain sebagainya.

    Terkadang ketika suatu kegiatan rutin baru akan dimulai, orang biasanya akan melakukan yang terbaik yang dia bisa, dan lama kelamaan esensi dan antusiasnya akan berkurang. Kenapa ini terjadi? Selain rasa bosan, penyebab lainnya adalah rumitnya proses pelaksanaan tugas yang harusnya berulang tersebut, sehingga tidak disadari menjadi satu kegiatan yang ‘traumatis’, yang membayangkannya saja sudah timbul rasa enggan.

    Jadi apabila ada suatu tugas/kegiatan yang akan menjadi rutin, jangan hanya pikirkan untuk melakukan yang terbaik, tapi juga pertimbangkan faktor simplisitas pelaksanaan tugas di masa yang akan datang, sehingga tugas tersebut akan menjadi lebih feasible untuk dilakukan secara rutin.

    ++Mobile

     
    • Heksa Ramdono 8:41 pm on Friday, August 20, 2010 Permalink | Reply

      toba!!!!!

    • Subhan Toba 8:44 pm on Friday, August 20, 2010 Permalink | Reply

      eh eta komen ngan kitu hungkul sa?? :p

    • Heksa Ramdono 8:46 pm on Friday, August 20, 2010 Permalink | Reply

      aing lain komen, tp ngageroan :p

    • Subhan Toba 8:48 pm on Friday, August 20, 2010 Permalink | Reply

      wakakakakaka siap pak sutradara :D :D :D teu rugi babaturan jeung maneh :p

    • Heksa Ramdono 8:52 pm on Friday, August 20, 2010 Permalink | Reply

      mnh keur di negara mana euy? Asa euweuh buricak burinong???

    • Subhan Toba 8:56 pm on Friday, August 20, 2010 Permalink | Reply

      masing di ciputat raya. jarang ulin kamamana yeuh, geus boga buntut, hese ditinggal2. Ayeuna wae mun nepi imah budak sok nyanyi "papa gak pulang bebeh" wakakakaka

    • Heksa Ramdono 8:59 pm on Friday, August 20, 2010 Permalink | Reply

      wah edan mnh ba,rokenroll abah..tara k bdg pisan? Sok kontak jeung saha wae nu d bdg?

    • Subhan Toba 9:00 pm on Friday, August 20, 2010 Permalink | Reply

      sesekali mah jeung si ijay. pas 3 taun ke belakang pernah ketemu waktu dia lagi suting di daerah ciputat. ente dimana ayeuna sa?

    • Heksa Ramdono 9:18 pm on Friday, August 20, 2010 Permalink | Reply

      urng msh stay d kmps bray sesekali k jogja main teater..kmu gawe naon bray??

  • Subhan Toba 8:43 pm on Thursday, August 19, 2010 Permalink | Reply  

    Cub Interior 

    Kemaren malem ga sengaja nginep di tempat temen di Tebet. Gw disana dari sore. Pas waktu buka beberapa temen kampus dateng juga ke situ. Dan ternyata mereka mnegadakan rapat untuk workgoup (sebutan gw untuk sekumpulan orang yang sepakat bikin usaha bersama tapi belum dilegalkan) interior.

    Gw segera teringat kembali masa-masa tahunan silam, ketika berkumpul seperti itu juga, membangun Salikur (keluarga teater), VideoArd (production house), dan terakhir Xinix Technology (Software house).

    Karena ingatan itu, dan karena rasa gatal setelah berjam-jam mendengarkan mereka ngumpul membicarakan nama group yang belum ketemu juga, gw menawarkan diri jadi moderator. Moderator yang baru masuk di tengah ‘rapat’ dan hanya bicara pada saat tertentu saja. Ya tidak seperti moderator yang selama ini saya tahu, semua itu demi menyesuaikan dengan keadaan dan mencoba tidak ikut campur lebih jauh. Saya tersenyum; ya memang semuanya bermulai dari ‘kekacauan’, chaos.

    Terlepas dari detil rapat malam itu ada pikiran lain menggelitik di kepala. Memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya atas workgroup ini. Tapi hal itu pun segera gw singkirkan, melihat animo mereka, dan melihat percikan potensi kreatifitas dari tiap personelnya. Gw hanya berharap ini akan menjadi sesuatu yang menarik di masa yang akan datang.

    Akhirnya lahirlah sebuah nama: “CUB INTERIOR”.

    Bravo my friends, may success be our future :D

    Bagian dari seri tulisan : Berdikari
    Tulisan lainnya:
    1. Cub Interior (this post)
    2. Saya Tidak Mampu Jadi CEO

     
    • omenanaksetan 8:56 pm on Thursday, August 19, 2010 Permalink | Reply

      Wahahahahha…..
      Sebelumnya makasih ya om momod….
      Ya kita ga akan pernah melupakan, perjuangan itu. (Semoga).
      Karena jong2 indonesia, telah berkumpul untuk mencanangkan suatu gebrakan baru pada dunia design (amin hahahaha).
      Mohon support dr tmn2…
      Nama Kami pasti akan bersanding dengan konin armory.bahkan insya ALLAH lbh besar lg. (Amin lg).
      Hahahhaaha

    • Aves 5:34 pm on Monday, August 23, 2010 Permalink | Reply

      Selamat, semoga sukses selalu menyertai anda2 semua :)

    • omenanaksetan 2:35 am on Saturday, August 28, 2010 Permalink | Reply

      maksih om aves :) mohon doa dan dukungannya ya……

      ^_^

  • Subhan Toba 8:56 pm on Tuesday, August 17, 2010 Permalink | Reply  

    Akhirnya Online Lagi 

    Akhirnya, setelah sekian waktu down, nyenius.com bisa mengudara lagi.

    Error yg sebelumnya biasa disebut
    ‘White screen of the death’
    , yang terkadang dialami oleh instalasi wordpress. Yang gw alamin sih karena terakhir ngedit file theme (lupa file yang mana). Tapi, ajaibnya, walau pilihan theme yang digunakan sudah diganti ke theme yang lain, masalah belum juga terselesaikan.

    Kebanyakan user wordpress sih nyaranin ubah pilihan theme melalui database langsung, tapi itu gak berhasil di kasus gw. Akhirnya gw tiban aja semua file aplikasi wordpress dengan versi terbaru; dan berhasil :D .

    So start to blog again :)

     
    • Aves 4:19 am on Thursday, August 19, 2010 Permalink | Reply

      :) Akhirnya :)

c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel