Updates from June, 2017 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Subhan Toba 7:50 am on Friday, June 30, 2017 Permalink | Reply  

    Membaca Sejarah 

    Saya baru saja selesai menonton film Wilson sebuah film dark comedy mengenai jalan hidup seseorang. Kegelisahan terbesar (dan yang terselesaikan) yang dialami sang tokoh adalah ancaman terhapusnya eksistensi dirinya di dunia. Hal itu terselesaikan dengan tersambung lagi hubungannya dengan anak kandung dan cucunya.

    Melihat tema tersebut saya teringat akan tokoh-tokoh dunia yang tercatat namanya dalam sejarah. Hal itu sangat berseberangan dengan posisi tokoh Wilson baik posisi sosial maupun pencapaian dalam hidupnya.

    Selama Ramadhan kemarin saya coba membaca kembali sejarah peradaban Islam. Buku yang saya pilih adalah Sejarah Umat Islam karangan Buya HAMKA. Hal ini tergelitik dari kondisi politik saat ini yang carut marut, yang menggunakan hampir segala cara untuk menang (atau memang politik selalu seperti itu di setiap zaman).

    Dari menggali kembali sejarah umat islam, saya berharap dapat lebih mengerti situasi saat ini. Baik kondisi negara dan masyarakat pada umumnya, dan posisi saya sendiri dalam sejarah yang sedang bergerak.

    Nikmatnya dari membaca sejarah adalah timbul perasaan tenang dan diri yang tidak begitu kaget melihat fenomena-fenomena saat ini. Karena sejarah bicara dalam rentang waktu yang relatif panjang, membuat hidup kita tampak sebagai butiran debu belaka. Membaca dan mempelajari sejarah menghapus hambatan-hambatan emosional temporer yang kita rasakan dalam hidup sehari-hari sebagai manusia.

    Dan dalam Qur’an, saya bertemu penjelasan mengenai sejarah beberapa kaum yang memang dikehendaki untuk tidak pernah ditemukan oleh manusia sesudahnya. Mereka dan segala pencapaian peradabannya dihapus begitu saja dari muka bumi.

     

    Dua hal yang saya garis bawahi dari pelajaran sejarah, manusia yang tercatat dalam sejarah hanya dua; mereka yang betul-betul brengsek dan yang betul-betul mulia. Keduanya diposisikan sebagai sumber manfaat manusia selanjutnya. Entah sebagai contoh buruk atau sebagai contoh baik. Peradaban manusia adalah hasil pewarisan manfaat yang turun-temurun dan tak jarang pula dari kebencian yang dirawat antar generasi.

     
  • Subhan Toba 4:02 pm on Thursday, June 29, 2017 Permalink | Reply  

    Tauhiid fiil Motorcycle 

    Dulu ketika saya mulai gandrung untuk mencuci sendiri motor kesayangan, saya menemukan beberapa kerak kotoran pada motor yang cukup sulit untuk dibersihkan. Beberapa kotoran lebih melekat daripada yang lain. Fenomena tersebut segera menjadi analogi pribadi saya mengenai kondisi hati manusia dan dosa-dosa yang menutupinya. 

    Kali ini ketika saya mempelajari kinerja mesin motor, perawatannya, dan optimalisasinya, saya melihat ‘teknis’ hidup manusia dan ‘teknis’ hubungan makhluk dengan khaliknya. 

    Secara singkat, saya menerjemahkan kinerja motor sebagai penerjemahan mesin dan mekanikal lainnya atas perintah sang pengendara mengenai gerak dan manuver. Sebuah perintah yang disampaikan melalui rangkaian proses komunikasi antar part. Dan semua bagian berperan menentukan bentuk respon yg dihasilkan. Bottleneck atau anomali pada satu rangkaian proses akan menghambat kinerja part lainnya.

    Motor dan seluruh part nya terbayang oleh saya sebagai upaya manusia dalam mengharapkan respon dari Sang Pencipta. Jasmani, rohani, menjadi satu rangkaian ‘kendaraan’ yang tak terpisahkan. Dan Tuhan menurunkan agama sebagai manual book bagi kita para pengendara kehidupan. 

    Hal ini tergambar tepat ketika saya bertanya-tanya tentang hikmah kehidupan saya belakangan ini. Perjalanan lahiriah dan batiniah pribadi saya. Ketika semua upaya telah dibuat dan hasilnya masih belum optimal, apalagi yang kurang? Apalagi yang mesti diperbaiki?

    Dan ketika saya membuka busi motor, menggantinya dengan yang baru dan lebih baik, munculah ilham itu; mungkin ada satu part dari diri saya yang belum ter-maintain belum dioptimalkan. Yang membuat saya segera mengarahkan teropong pertanyaan jauh ke dalam diri sendiri. 

    Membongkar segala ‘ubudiyah dan segala mu’amalah. Mana yang terlewati dan mana yang belum dilaksanakan dengan benar, dan yang paling penting; yang mana dulu yang dikerjakan untuk kondisi saat ini.

    Dimulailah pemetaan ‘part-part’ diri saya sendiri.

     
  • Subhan Toba 2:10 pm on Saturday, June 24, 2017 Permalink | Reply  

    See You Later Ramadhan… 

    Tak terasa bulan Ramadhan tahun ini sebentar lagi akan berakhir. Tak sampai seminggu lagi fajar bulan Syawal akan menyingsing. Ada rasa sedih terbetik dalam hati; sedih dan takut. 

    Sedih bahwasannya segala keistimewaan Ramadhan akan berakhir dan takut tak bisa lagi berjumpa, juga takut kehilangan segala kebiasaan baik yang terbina selama Ramadhan. 

    Semoga Tuhan mengekalkan kebaikan-Nya dan semoga Tuhan mengizinkan hal tersebut atas diri saya.

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel