Tauhiid fiil Motorcycle

Dulu ketika saya mulai gandrung untuk mencuci sendiri motor kesayangan, saya menemukan beberapa kerak kotoran pada motor yang cukup sulit untuk dibersihkan. Beberapa kotoran lebih melekat daripada yang lain. Fenomena tersebut segera menjadi analogi pribadi saya mengenai kondisi hati manusia dan dosa-dosa yang menutupinya. 

Kali ini ketika saya mempelajari kinerja mesin motor, perawatannya, dan optimalisasinya, saya melihat ‘teknis’ hidup manusia dan ‘teknis’ hubungan makhluk dengan khaliknya. 

Secara singkat, saya menerjemahkan kinerja motor sebagai penerjemahan mesin dan mekanikal lainnya atas perintah sang pengendara mengenai gerak dan manuver. Sebuah perintah yang disampaikan melalui rangkaian proses komunikasi antar part. Dan semua bagian berperan menentukan bentuk respon yg dihasilkan. Bottleneck atau anomali pada satu rangkaian proses akan menghambat kinerja part lainnya.

Motor dan seluruh part nya terbayang oleh saya sebagai upaya manusia dalam mengharapkan respon dari Sang Pencipta. Jasmani, rohani, menjadi satu rangkaian ‘kendaraan’ yang tak terpisahkan. Dan Tuhan menurunkan agama sebagai manual book bagi kita para pengendara kehidupan. 

Hal ini tergambar tepat ketika saya bertanya-tanya tentang hikmah kehidupan saya belakangan ini. Perjalanan lahiriah dan batiniah pribadi saya. Ketika semua upaya telah dibuat dan hasilnya masih belum optimal, apalagi yang kurang? Apalagi yang mesti diperbaiki?

Dan ketika saya membuka busi motor, menggantinya dengan yang baru dan lebih baik, munculah ilham itu; mungkin ada satu part dari diri saya yang belum ter-maintain belum dioptimalkan. Yang membuat saya segera mengarahkan teropong pertanyaan jauh ke dalam diri sendiri. 

Membongkar segala ‘ubudiyah dan segala mu’amalah. Mana yang terlewati dan mana yang belum dilaksanakan dengan benar, dan yang paling penting; yang mana dulu yang dikerjakan untuk kondisi saat ini.

Dimulailah pemetaan ‘part-part’ diri saya sendiri.