Membaca Sejarah

Saya baru saja selesai menonton film Wilson sebuah film dark comedy mengenai jalan hidup seseorang. Kegelisahan terbesar (dan yang terselesaikan) yang dialami sang tokoh adalah ancaman terhapusnya eksistensi dirinya di dunia. Hal itu terselesaikan dengan tersambung lagi hubungannya dengan anak kandung dan cucunya.

Melihat tema tersebut saya teringat akan tokoh-tokoh dunia yang tercatat namanya dalam sejarah. Hal itu sangat berseberangan dengan posisi tokoh Wilson baik posisi sosial maupun pencapaian dalam hidupnya.

Selama Ramadhan kemarin saya coba membaca kembali sejarah peradaban Islam. Buku yang saya pilih adalah Sejarah Umat Islam karangan Buya HAMKA. Hal ini tergelitik dari kondisi politik saat ini yang carut marut, yang menggunakan hampir segala cara untuk menang (atau memang politik selalu seperti itu di setiap zaman).

Dari menggali kembali sejarah umat islam, saya berharap dapat lebih mengerti situasi saat ini. Baik kondisi negara dan masyarakat pada umumnya, dan posisi saya sendiri dalam sejarah yang sedang bergerak.

Nikmatnya dari membaca sejarah adalah timbul perasaan tenang dan diri yang tidak begitu kaget melihat fenomena-fenomena saat ini. Karena sejarah bicara dalam rentang waktu yang relatif panjang, membuat hidup kita tampak sebagai butiran debu belaka. Membaca dan mempelajari sejarah menghapus hambatan-hambatan emosional temporer yang kita rasakan dalam hidup sehari-hari sebagai manusia.

Dan dalam Qur’an, saya bertemu penjelasan mengenai sejarah beberapa kaum yang memang dikehendaki untuk tidak pernah ditemukan oleh manusia sesudahnya. Mereka dan segala pencapaian peradabannya dihapus begitu saja dari muka bumi.

 

Dua hal yang saya garis bawahi dari pelajaran sejarah, manusia yang tercatat dalam sejarah hanya dua; mereka yang betul-betul brengsek dan yang betul-betul mulia. Keduanya diposisikan sebagai sumber manfaat manusia selanjutnya. Entah sebagai contoh buruk atau sebagai contoh baik. Peradaban manusia adalah hasil pewarisan manfaat yang turun-temurun dan tak jarang pula dari kebencian yang dirawat antar generasi.