Bisikan (1)

Setelah melalui Ramadhan tahun ini saya merasa setahap lebih kenal akan diri saya sendiri. Diri saya sebagai manusia yang katanya tempat salah dan dosa. 

Berpegang pada keyakinan dalil yang mengatakan setan dibelenggu pada bulan Ramadhan. Saya mengajukan kembali pertanyaan; mengapa pada bulan tersebut pelaku puasa masih mungkin berbuat dosa?

Pertanyaan itu gampang-gampang susah untuk dijawab. Kali ini saya pun memberikan usaha lebih serius untukmencari jawabannya. Saya harus mulai dari variabel yang jelas. 

Untuk itu saya yakini betul- betul terlebih dulu dalilnya. Lantas ketika setan absen dan manusia masih berbuat dosa, maka hal itu meninggalkan tersangkanya pada diri manusia itu sendiri. Tepatnya pada penyalahgunaan (selalu soal penyalahgunaan) komponen-komponen dirinya. Komponen jasmani (pancaidnera) dan rohani (contoh; nafsu).

Dari situ saya berniat melakukan komparasi diri saya selama Ramadhan dan di luar Ramadhan. Sekarang saya rasa sudah cukup untuk mulai menuliskan hasilnya. 

Selama Ramadhan saya memperhatikan diri saya dalam beberapa situasi tertentu, ketika saya marah, birahi, lapar dan haus. Kondisi dasar lapar dan haus menjadi framework yang tepat untuk menyaksikan kiprah hawa nafsu dan bagaimana saya memperlakukan tuntutannya. 

Semua terasa sangat raw, mentah, sangat mendasar. Terasa to the point tapi mudah untuk dihindari (ketika kita sadari kehadirannya). Dan ketika kebaikan yang ingin dilakukan, mudah saja untuk dilaksanakan. 

Setelah usai Ramadhan, suasana berangsur berubah. Dorongan-dorongan negatif terasa samar, tidak sebesar pada bulan Ramadhan. Perbedaannya, ketika dorongan dosa itu muncul lebih sulit dihindari. Selalu ada second opinion dan alibi-alibi dikepala yang membuat saya menggampangkan dosa. Bahkan saya temukan second opinion ini juga masuk dalam pertimbangan perbuatan baik. 

Seperti ketika akan memberi kepada seseorang timbul ungkapan: “tapi dia kan begini-begitu” Atau ketika akan menunaikan shalat, hadir dorongan untuk melihat handphone sebentar, sebentaaar saja, paling ngga ada yang penting juga daritadi handphone anteng ga ada yang hubungin. Pilihannya adalah : wudhu kemudian shalat, selesai, atau duduk buka handphone, entah kapan selesai.

Pilihan dalam pikiran itu sangat sangat jelas terlihat. Pada bulan Ramadhan kemarin saya akan dengan cepat memilih wudhu dan shalat, tapi sekarang sangat berbeda pilihan yang saya ambil. Dan disinilah saya menyadari perbedaannya, ada second opinion yang timbul dan terus tumbuh dari satu alasan ke alasan lainnya di kepala. Yang akhirnya secara halus mendekatkan saya kepada perbuatan salah. 

Antara dorongan mentah saya sendiri (naluriah manusiawi), dan dorongan yang ditemani pembisik, sangat jauh perbedaannya. Yang pertama seperti menundukkan banteng liar secara head-to-head, yang satu lagi seperti menundukkan ular yang dipegang buntut tapi kepalanya mematuk.

Dan surah An-Naas menjelaskan lebih jauh akan pembisik dan bisikannya. Surah ini tentang permohonan perlindungan kepada Tuhannya manusia dari kejahatan was-was yang dibisikkan setan dalam segala bentuknya. 

Satu bisikan yang dituruti, menuntun pda bisikan lainnya, dan seterusnya, dan seterusnya.