Tingwe Linting Dewek

Kurang lebih sembilan bulan yang lalu saya beralih sepenuhnya ke rokok tingwe. Keluar dari kotak penjatahan berbasiskan hitungan batang. Masuk ke dunia rokok yang hampir sepenuhnya custom, bisa disesuaikan dengan cita rasa saya sendiri. 

Aktifitas tingwe membongkar rokok hingga ke bagian-bagian terkecil. Semua pilihan bahan yang digunakan mempengaruhi rasa  lintingan tembakau yang dibuat. Pemilihan pembungkus rokok (kertas, daun, kulit kayu), filter, tembakau, bumbu rokok, hingga ke bentuk lintingannya itu sendiri. Semua memainkan peran penting. Bahkan sampai packaging atau wadahnya pun bisa kita pilih sesuai selera. 

Wadah tembakau dari kulit

Ada satu efek samping lain dari tingwe yang saya rasakan, yaitu penghematan. Sebelumnya saya menghabiskan rokok sekitar dua bungkus (32 batang) dalam sehari. Tak kurang uang 40,000 keluar per harinya hanya untuk rokok. 

Untuk tingwe, dengan rata-rata 1gram /lintingan, maka kurang lebih 50 batang bisa dihisap dari satu bungkus tembakau linting 50gram. Bila ingin lebih hemat lagi bisa lebih dari itu, tinggal saya kecilkan bentuk lintingannya. Mau lama menikmati lintingan, dipanjangkan saja lintingannya. 

Saat ini saya menghabiskan sekitar 50gram tembakau dalam waktu 3 hari. Itu berarti Rp 25,000 (harga tembakaunya) vs Rp 120,000 (harga rokok). Sangat jauh selisihnya, belum lagi kalau diakumulasi dalam sebulan.

Karena prosesnya manual, melinting saya rasa cukup dapat mengerem saya dari merokok secara kereta api, beruntun. Walau kadang saya membuat stok di malam hari untuk keesokan hari (pakai alat atau linting tangan).

Namun proses yang manual tersebut juga ada kekurangannya. Yaitu ketika kita sedang melakukan aktifitas yang membuat tangan kotor, seperti ngoprek motor misalnya, tangan yang belepotan oli tentu tidak bisa digunakan untuk melinting. Pada saat seperti itu terpaksa saya membeli rokok pabrikan.