Today’s Discovery (Late post:11/07/2026)
Hari ini saya menghadiri orientasi di SMP Negeri tempat anak saya akan bersekolah.
Ada sebuah terobosan baru dalam pendidikan karakter yang cukup menarik perhatian saya: Jempol.
Murid-murid dianjurkan menggunakan jempol untuk menunjuk, bukan telunjuk, karena secara filosofis jempol dianggap memiliki makna yang lebih baik dalam mencerminkan karakter. Bahkan, ketika ingin bertanya atau merespons sesuatu di kelas, jempol juga yang harus diangkat.
Menarik, ya?
Saya sebenarnya tidak mempermasalahkan penggunaan simbol. Simbol memang bisa menjadi pengingat nilai. Tapi rasanya ada sesuatu yang lebih penting untuk diperhatikan.
Selama hampir dua jam acara berlangsung, saya menunggu-nunggu kesempatan untuk bertanya. Lumayan, sekalian mau praktik, sebenarnya lebih enak pakai jempol atau telunjuk, ya?
Sayangnya, tidak ada satu pun sesi untuk bertanya. Tidak ada ruang diskusi, tidak ada kesempatan menyampaikan pendapat atau memberikan masukan. Informasi berjalan satu arah, dari depan ke belakang. Selesai.
Di situ saya mulai melihat sebuah paradoks.
Kita begitu serius mengatur jari mana yang sebaiknya digunakan, sampai lupa bahwa pendidikan karakter seharusnya juga menyediakan ruang bagi orang untuk menggunakan suaranya.
Mungkin memang begini inovasi pendidikan karakter zaman sekarang: filosofi cara menunjuk sudah diperbarui, sementara budaya mendengarkan dan menerima pertanyaan masih menunggu entah kapan akan dikembangkan.
Padahal, karakter bukan soal seberapa indah gestur yang kita ajarkan, melainkan nilai apa yang benar-benar kita praktikkan.
Mengajarkan anak untuk menunjuk dengan jempol tentu boleh saja. Tapi jangan sampai kita terlalu sibuk memperbaiki penampilan jarinya, sampai lupa membangun lingkungan yang menghargai isi kepalanya.
Dan satu lagi, kalau pada akhirnya tidak pernah ada ruang untuk bertanya, jangan terlalu heran kalau suatu hari jari yang terangkat justru bukan jempol, bukan pula telunjuk, melainkan jari tengah.
Barangkali itu memang bukan bagian dari kurikulum pendidikan karakter. Tapi bisa jadi sebuah pengingat bahwa simbol penghormatan tidak akan banyak berarti jika ruang untuk saling menghormati saja tidak tersedia.